Opini

“Akhiri Polemik Gunung Rajabasa”

Lapangan Cipta Karya Kalianda dengan latar Gunung Rajabasa, Kamis (24/3/16). (foto: aka)

OPINI:
Penulis: Jaylani Mangku Alam
Ketua Sentral Aspirasi Rakyat (Setara) Lampung Selatan.

Gunung Rajabasa adalah sumber mata air masyarakat diempat kecamatan, yakni Kalianda, Rajabasa, Penengahan dan Bakauheni. Air yang dikelola langsung oleh masyarakat desa maupun yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtayasa Lampung Selatan.

Kemudian jika dilihat dari sejarah adat budaya Lampung, Gunung Rajabasa adalah salah satu simbol kebesaran kerajaan paksi pak slaka brak setelah Gunung Seminung, Gunung Pesagi, dan Gunung Tanggamus.

Dalam hal ini saya tidak bicara setuju atau tidak setuju tentang program geotermal (energi panas bumi) Gunung Api yang sudah tidur lebih dari 500 tahun ini, akan tetapi persoalannya sekarang adalah bagaimana masyarakatnya, dan bagaimana prosesnya, siapa bapaknya dan siapa ibunya. Karena selama ini yang ada hanya bapak dan ibu angkat.

Perlu diingat bahwa program panas bumi ini telah menjadi polemik ditengah masyarakat sejak dari tahun 2009, saat itu kami telah melakukan hearing di DPRD Lamsel untuk meminta wakil rakyat meninjau ulang rencana pengeboran Gunung Rajabasa yang pada saat itu masih tahap rencana.

Dimasa pemerintahan bupati bapak Wendi Melfa program geotermal Gunung Rajabasa ini sempat terhenti namun dilanjutkan kembali masa pemerintahan bupati Rycko Menoza.

Karena kami difokuskan dengan adanya kebijakan yang tidak pro rakyat (pendirian patung ZAP) maka kebijakan geotermal Gunung Rajabasa luput dari pantauan yang kemudian memantik polemik berkepanjangan.

Saat ini pemerintahan Lampung Selatan memiliki nuansa baru yaitu dipimpin oleh putra terbaik Lampung Selatan, Zainudin Hasan. Oleh sebab itu saya yakin bupati mempunyai langkah-langkah dan strategi jitu untuk mengurai polemik tentang pemanfaatn panas bumi Gunung Rajabasa, yang beberapa hari terakhir kembali mencuat.

Harapan kita sebagai rakyat kepada bupati agar masalah gunung rajabasa ini tuntas, tentunya dengan melibatkan segala unsur masyarakat, agar benar-benar menjadi penyelesaian yang dikemudian hari tidak lagi menimbulkan gejolak yang bisa mencegah penanam modal masuk ke Lampung Selatan.

Comments

comments

1 Comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Berita Popular

To Top
Shares