Opini

Bangun Desa Itu Mulai Nyata

Syahidan SH MH (foto: dokumen pribadi)

Opini:
Judul: “Bangun Desa Itu Mulai Nyata
Oleh: SYAHIDAN SH., MH
Pemerhati Sosial, Mantan Anggota DPRD Lampung Selatan
Warga Desa Mandah, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan

 

Setelah sarapan pagi, Kemarin, Senin (9/1/17) saya tidak sengaja melakukan touring menyusuri jalan-jalan yang ada di wilayah Kecamatan Natar dengan mengendarai sepeda motor.

Saya mulai start dari rumah saya di Desa Mandah dan menyusuri Jalinsum menuju ke arah Natar. Setiba dikawasan Bandara Radin Inten II, Branti, motor saya pelankan, dan saya pandangi Bandara tersebut, begitu megahnya sekarang.

Bangunan untuk parkir kendaraan sudah tertata rapi, area keberangkan dan kedatangan penumpang begitu megah dan terkesan amat gagah. Tepat diseberang hotel Mojopahit yang berada didepan Bandara, saya hentikan motor dan saya berbaur dengan para supir travel Bandara yang kebetulan banyak dari mereka adalah teman-teman saya.

Hampir 15 menit saya berbincang dengan mereka, yang hampir seluruh pembicaraan tersebut menceritakan kebanggaan mereka terhadap kondisi Bandara yang sudah amat megah ini.

Meski pembangunan Bandara adalah proyek pusat, tapi sebagai warga Lamsel, mereka amat bangga, karena Bandara Radin Inten II berada dalam wilayah Lamsel. Setelah puas berbincang, saya pamit dan meneruskan perjalanan kearah Natar. Setiba di Jalan Sitara (Desa Muara Putih), motor saya arahkan menyusuri jalan poros yang terbentang dari jalan sitara (Natar) hingga ke Kecamatan Jati Aggung.

Ketika saya masuk jalan sitara, saya disambut oleh kondisi jalan yang telah dicor beton hingga melewati SMP/SMA Yadika, setelah itu jalan beraspal hotmix yang masih mulus terhampar dengan asri.

Ada hal menarik yang saya lihat, sepanjang jalan poros tersebut, tidak ada polisi tidur, sehingga laju kendaraan cukup lancar. Seletah saya melewati dusun Tanjung Senang dan Tanjung Waras (Desa Merak Batin), saya mulai memasuki dusun Kali Asin (Desa Kali Sari), sesampai di tugu Kali Asin, motor saya belokan kiri menuju ke dusun Banjar Sari, desa Kali Sari (jika lurus ke desa Krawang Sari).

Sesampai di dusun Banjar sari, motor saya hentikan dan saya berbincang-bincang dengan warga Banjar Sari. Di dusun ini, saya mempunyai banyak kenangan, karena lebih dari 7 tahun saya menetap (2009-2015), bahkan pasar Banjar Sari ini, yang kini sudah terbilang bagus, merupakan buah dari perjuangan saya dan teman-teman.

Dulu pasar Banjar Sari ini teramat kumuh dan terkesan tidak terurus, tapi setelah dilakukan pergantian pengurus pasar, tahun 2013, maka pasar ini mulai ditata, los-los dan kios mulai dibangun dan lantai pasar mulai di pasang paving block, hingga terlihat rapi seperti sekarang ini. Tapi sayang, tahun 2015, saya memutuskan untuk pindah rumah dari Banjar Sari untuk kembali ke kampung halaman saya di desa Mandah.

Setelah lebih dari 30 menit saya ngobrol melepas kangen dengan teman-teman di Banjar Sari, saya meneruskan perjalanan menuju dusun Tangkit Batu (desa Muara Putih), jalan ini kini telah dihotmix, amat jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya yang hancur lebur.

Terakhir jalan ini di hotmix diera kepemimpinan Zulkifli Anwar dan tidak pernah lagi diperbaiki baik. Diera Wendi Melfa maupun di era Rycko Menoza, barulah di era Zainudin Hasan, yaitu tahun 2016, jalan ini diperbaiki kembali.

Sesampai di Tangkit Batu, saya singgah di rumah mas Bejo Susanto, anggota DPRD Lamsel dari PAN, tapi sayang, yang bersangkutan tidak ada dirumah karena sedang bekerja. akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju arah Desa Pancasila, dan saya tetap disambut dengan kondisi jalan yang teramat bagus.

Ketika mendekati desa Pancasila, motor saya arahkan ke desa Krawang Sari dan saya kembali bertemu dengan jalan poros yang menghubungkan Kecamatan Natar dengan Kecamatan Jati Agung, jalan poros yang saya lalui tetap dalam kondisi bagus hingga saya keluar di pasar Karang Anyar.

Di sekitar pasar Karang Anyar saya mampir ke rumah teman saat kuliah di IAIN Radin Inten, kebetulan teman tersebut ada dirumah dan saya disuguhi kopi panas. Kami ngobrol ngalor ngidul, baik masalah keluarga, masalah pekerjaan, juga tidak lupa membicarakan pembangunan Lamsel di era kepemimpinan ZaiN.

Setelah puas ngobrol, saya pamit dan kendaraan saya melaju ke arah Way Halim. Di perempatan Way Halim, laju kendaraan sudah amat lancar, tidak ada kemacetan seperti dulu, berkat adanya jembatan layang yang terbentang diatas Jalinsum milik Pemkot Bandar Lampung.

Dibawah jembatan layang tersebut, motor saya arahkan ke Rajabasa. Sesampai di perempatan DAMRI (Jln Kapten Abdul Haq) saya berbelok kanan, menuju ke arah desa Sidosari.

Memasuki Desa Sidosari (Lamsel), saya kembali disambut dengan kondisi jalan yang mulus, selurus ruas jalan di Sidosari kondisinya sama, mulus semua. Keluar dari sidosari saya masuk dusun Cisarua (desa Muara Putih) kondisinya pun tidak jauh berbeda jalannya tetap mulus. Begitu juga ketika saya memasuki dusun Tanjung Rejo (desa Merak Batin) jalannya sudah hotmix dan akhirnya saya sampai di Tanjung Waras, perempatan SDN Teladan untuk kemudian kembali melewati jalan sitara.

Sesampai di pasar Natar, perut saya sudah keroncongan, saya liat arloji, jam menunjukan lebih dari pukul 14.00, saya memutuskan untuk singgah di warung padang yang cukup banyak disekitar pasar Natar, untuk makan, sekalian shalat dhuhur.

Setelah itu, sy kembali melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan Dahlia, yaitu jalan penghubung antara Kecamaran Natar (Desa Natar) dan Kecamatan Negeri Sakti (Pesawaran), jalan yang dulu sempat rusak parah ini, kini kondisinya cukup bagus, tapi memang banyak polisi tidur, mungkin masyarakat disepanjang jalan ini, khawatir dengan para pengguna jalan yang sering melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Setelah sampai di dusun Marga Taqwa (desa Natar) yaitu dusun yang langsung berbatasan dengan Kecamatan Negeri Sakti, saya putar arah dan kembali ke pasar Natar. Dibawah jembatan layang pasar Natar, saya istirahat dan sempat ngobrol sejenak dengan Bapak Jauhari, seorang mantri yang juga pernah tercatat sebagai anggota DPRD Lamsel.

Setelah bincang-bincang sejenak dengan beliau, Saya meneruskan perjalanan ke arah desa Negara Ratu, setelah melawati perlintasan rel KA (didepan lapangan PSN), saya disambut oleh kondisi jalan yang teramat buruk, apalagi menjelang SMPN I Natar, kondisi jalannya benar-benar rusak parah.

Dalam hati, saya bergumam, jalan ini kan setiap hari dilewati oleh seorang anggota DPRD Lamsel yang kalau tidak salah adalah ketua fraksi PDIP DPRD Lamsel dan kebetulan suami dari anggota dewan tersebut adalah Kepala Desa Negara Ratu, tapi mengapa jalan ini teramat rusak parah?

Tapi fikiran positip saya lebih saya utamakan, mungkin sang legislator yang sudah dua periode ini, sibuk memperjuangkan pembangunan di desa lainnya, sehingga jalan yg menuju ke desanya juga kerumahnya, dikesampingkan dahulu.

Untuk meyakinkan fikiran positip saya itu, motor saya arahkan menuju rumah yang bersangkutan. Kondisi jalan kerumah Srikandi PDIP ini juga sama, jalannya masih berbatu dan jika hujan turun kondisinya becek dan berlumpur.

Setelah puas melihat-melihat kondisi jalan di depan rumah sang legislator, saya kembali berputar dan kemudian memacu kendaraan untuk kembali pulang ke rumah, yaitu di Desa Mandah. Sesampai dirumah, meski badan terasa capek, tapi ada senyum di bibir saya dan ketika saya memasuki rumah, dengan suara pelan saya bergumam, “TERNYATA BANGUN DESA ITU SUDAH MULAI NYATA…” (Catatan Selasa pagi 10/1/2017, sambil ngopi sebelum mandi).

Comments

comments

Berita Popular

To Top
Shares