Bandar Lampung

BI Fokus Berdayakan Ekonomi Digital Syariah dalam Industri Pertanian

Seminar Digital Solution for Farming Industry, yang diorganisir Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Lampung, di Ballroom Hotel Swiss-bel, Telukbetung, Bandarlampung, Jum'at (3/8/2018). (Mzl)

BANDAR LAMPUNG –Pertumbuhan financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) yang mencapai digit 1.705 perusahaan pada 2017, tertinggi di ASEAN serta tertinggi keempat di dunia adalah kabar baik di tengah iklim ekonomi disruptif saat ini.

Merujuk data nomor seluler aktif di Indonesia hingga mencapai agregat 350 juta nomor lintas operator, dan saat semua orang telah akrab dengan telepon cerdas, kini bukan masanya lagi menggunakannya hanya sebatas untuk komunikasi voice dan komunikasi data belaka, bermedsos ria misalnya, tapi telah menggejala untuk kegunaan yang lebih produktif, berbisnis.

Maraknya lahir platform aplikasi penjualan daring, e-dagang (e-commerce), yang konsisten tumbuh 1,8 persen per tahun dan penetrasi industrinya mencapai 49 persen, jadi bagian fenomena disrupsi digital dimana Indonesia jadi rupa model negara yang “keduluan” kehadiran tamu bernama Revolusi Industri 4.0.

Dengan penetrasi supercepat era data raksasa, intelijensia buatan, machine learning, otomasi robotik, dan tergantikannya tenaga manusia dengan sumber daya teknologi digital yang lebih efisien, harus dipandang sebagai peluang.

Kesuksesan GoJek, misal, dengan valuasi Rp8,7 triliun dan membukukan kontribusi Rp1,7 triliun ke seluruh mitranya pada 2017, mampu membelalakkan mata dunia.

Sehingga, secara responsif, sebagai instrumen makroprudensial negara, Bank Indonesia (BI) turut berkepentingan berdiri di garda terdepan dengan menggelontorkan program layanan inovatif, UKM Go Digital.

Demikian disampaikan Kepala Divisi Teknologi Finansial (Kadiv Tekfin) Departemen Kebijakan Dan Pengawasan Sistem Pembayaran (DKSP) Bank Indonesia Susiati Dewi, saat berbicara pada Seminar Digital Solution for Farming Industry, yang diorganisir Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Lampung, di Ballroom Hotel Swiss-bel, Telukbetung, Bandarlampung, Jum’at (3/8/2018).

Membawakan materi Inovasi Layanan Keuangan Syariah Dalam Peningkatan Produktivitas Pertanian Di Era Digital, Susiati mampu membius ratusan peserta seminar yang merupakan rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera 2018 itu, dengan paparan komunikatifnya.

Susiati mengatakan, jika dibandingkan, tetap lebih banyak untung daripada ruginya, atas moncernya pertumbuhan fintech ini. Sebagai pengampu teknologi baru berbasis internet, fintech makin ke sini makin memanjakan end-usernya termasuk petani dan rakyat perdesaan.

“Kini nasabah bank termasuk nelayan dan petani, lebih banyak punya pilihan transaksi perbankan dan layanan keuangan yang all in, serba digital. Semua serba lebih cepat dan kaya metode, rangkaian transaksinya makin pendek, makin inklusif. Petani, kini bisa langsung connect dengan pemasok pakan, pabrik pupuk, dan pembeli produk,” terang dia.

“Secara inklusi keuangan, terkait penetrasi ruang lingkup produk dan jasa perbankan termasuk yang berdimensi syariah, kami juga terus memonitor tumbuh kembang akun rekening aktif yang untuk kategori nasabah usia dewasa saja mencapai total 49 persen dari total nasabah,” ujar wanita berhijab ini.

Susiati menjelaskan, BI juga melakukan sejumlah fasilitasi ihwal digital farming. Mulai pemanfaatan teknologi digital, teknologi drone, melajukan replikasi dan duplikasi pilot percontohan industri tekfin untuk perluasan skala nasabah atau coverage konsumen, dan mempertajam keterpaduan input basis data sebagai sumber daya kebijakan.

“Guna memperpendek rantai pasok, dalam upaya mempertemukan penjual dan pembeli, BI sudah masuk ke klaster-klaster pertanian. Tetapi kami belum bisa masuk ke skala yang lebih end-to-end,” akunya, di hadapan dua ratusan peserta seminar.

“Melalui pendekatan syar’i, berbasis enam poin pembiayaan syariah yang telah baku, kami optimis skema bagi hasil khas syariah yang diterapkan dalam pola kolaboratif pertanian digital ini, ke depan akan lebih masif. Misalnya 40 persen untuk investor, 20 persen petani, 20 persen untuk pemilik platform,” imbuh Susiati.

Ditambahkan dia, kini BI tengah menguji coba pilot percontohan digital farming ini di Jambi, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat.

Bagaimana cara BI mempercepat implementasinya? “Berbasis komunitas, fintech lebih efektif. Mengorganisir petani, mendekatkannya pada fintech, mengajak serta investor masuk, hingga timbul akad karena berbasis syariah, ada imbal hasil dan seterusnya, itu yang kami lakukan,” paparnya.

“Menjadi bagian optimisme kami, kerja keras membumikan ekonomi digital syariah ini ke depan bakal mampu menyasar 51 persen masyarakat unbanking kita,” harapnya.

“Kendala tentu ada. Itu tantangan bagi proses pengembangannya, yang harus disulap jadi peluang dan potensi luar biasa bagi upaya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini kalau kita sepakat, Indonesia bakal jadi the big economy dunia. Indonesia satu juta fintech, kenapa tidak?” pungkasnya, disambut aplaus peserta.

Bersama Susiati, hadir CEO i-Grow Andreas Senjaya, CEO i-Fishery Gibran Huzaifah, Ketua Umum Yayasan Desapolitan Indonesia (Desindo) Zaidirina, dan CEO Darmajaya Corporation Davit Kurniawan, sebagai narasumber seminar yang dimoderatori doktor agrobisnis Fakultas Pertanian (Faperta) Unila, Hanung Ismono itu. [red/mzl]

Comments

comments

Berita Popular

To Top
Shares