Budaya

Ini 2 Makanan Khas Lampung Pesisir yang Dibuat hanya saat Lebaran

Segubal dan Bua' Balak. (Foto: Aka)

Lnews.co, KALIANDA Lebaran adalah hari istimewa dan karena keistimewaan itu, masyarakat Lampung Pesisir Kalianda kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) menyajikan makanan istimewa pula.

Makanan yang dibuat dan disajikan hanya dihari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Makanan ini sebenarnya sederhana, namun lamanya waktu pembuatan menjadi pertimbangan untuk tidak membuatnya tiap saat.

Ada banyak makanan istimewa khas Lampung di hari raya lebaran, namun ada dua makanan yang paling mencolok dan dipastikan selalu ada saat lebaran dirumah-rumah orang Lampung Pesisir.

Bua’ Balak. (Foto: Aka)

 

Pertama, Bua’ Balak (Kue Besar-red).
Secara harfiah, bua’ balak artinya kue besar. Sesuai dengan namanya, ukuran kue ini memang besar namun yang cukup mewakili makna besar dari kue tersebut adalah lama pembuatannya.

Sebenarnya modal untuk membuat Bua’ Balak ini tidaklah besar. Untuk satu porsi ukuran terbesar yakni 30 cm x 30 cm dengan ketebalan 5 cm, biasanya modal yang dikeluarkan untuk membeli bahan, tidak lebih dari 50 ribu rupiah.

Hanya 3 bahan utama untuk membuat kue yang lama pembuatannya dari pagi sampai petang itu, yakni kuning telur ayam, gula pasir dan mentega dengan takaran satu banding satu, dan ditambah bubuk kayu manis sebagai pembangkit aroma.

Ibu saya, tiap tahun membuat kue ini. Karena proses pembakarannya manual alias menggunakan kayu bakar dan oven dari tanah liat yang ditutup seng dan diatasnya bakaran sabut kelapa, membuat ibu saya tidak sanggup membuat lebih dari dua loyang.

“Bahannya sederhana, tapi proses pembuatannya yang berlapis, lapis, membutuhkan waktu yang cukup lama, dari pagi sampai petang,” ujar Khoiriyah, warga desa Pauh Tanjung Iman, Kalianda.

Jika dihitung Bua’ Balak memiliki lebih dari 12 lapis dan prosesnya pun lapis. Lapis berikutnya baru ditambahkan ketika lapis bawah sudah berwarna kecoklatan dan itu dilakukan tiap 15 menit.

Kerja lama dalam pembuatan Bua’ Balak ini akan terbalas ketika gigitan pertama dikunyah. Rasanya manis bercampur guring serta menabur wangi khas yang tidak terdapat di kue lain menjadi daya tarik Bua’ Balak.

“Rasanya khas, beda dengan kue lain, saya suka dan selalu menunggu kue ini tiap lebaran,” ujar Taufiq warga Pauh Tanjung Iman, Kalianda, Kamis siang (14/6/18).

Makanan kedua yang hanya disajikan saat lebaran yakni, Segubal alias Ketan Lapis.

Segubal dibuat dari ketan biasa yang direbus dengan daun pisang, tetapi dalam pengolahannya, mempunya trik sendiri, dimana ketan dikukus selama 3 jam dengan air santan.

Segubal. (foto: Aka)

Setelah matang, ketan kemudian dicetak bulat dengan dasaran gelas plastik. Ukurannya sekitar 2,5 cm jari-jari. Ketan matang ditabur dalam wadah besar dari kayu yang dalam bahasa Lampung disebut ‘Gabah’.

Dalam gabah itulah proses pencetakan segumbal dibuat. Ketan yang sudah tercetak kemudian disusun keatas antara 5 sampai 7 lapis dengan alas daun pisang.

Lapisan ketan itu kemudian dibungkus lagi dengan daun pisang dan diikat tali rapia, ketan kemudian dilapisi lagi dengan daun pisang dan diikat kembali dengan tali rapia. Setelah pembungkusan, segubal selanjutnya direbus selama 4 jam.

Ada dua jenis menu yang biasanya menemani segumbal, yakni serundeng (parutan kelapa yang bercampur ikan atau daging tumbuk-red) dan Gulai daging.

“Buka segubal, ambil lapisan paling atas trus cocol dengan serundeng atau gulai daging, rasanya bikin nagih dan buat kangen. Sayangnya kita tidak bisa mendapatkan makanan ini tiap saat.” Tukas Taufiq. (aka)

Comments

comments

Berita Popular

To Top
Shares