Musim Haji

Maskapai Diminta Percepat Pemulangan Jemaah Sakit Layak Terbang

petugas dan jemaah haji indonesia yang sakit. (kemenag.go.id)

JAKARTA (Pinmas) – Operasional haji 1437H/2016M sudah selesai seiring kembalinya jemaah haji Indonesia kloter terakhir pada 15 Oktober lalu. Namun demikian, masih ada 34 jemaah yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi.

Setelah menjalani perawatan, 12 jemaah sudah dinyatakan membaik dan layak terbang untuk kembali ke Indonesia. Keterangan layak terbang tersebut tertuang dalam formulir standard informasi medis untuk perjalanan udara yang biasa disebut Standard Medical Information Form For Air Travel (MEDIF) dan sudah diterima Kantor Urusan Haji Indonesia, pada Rabu (19/10).

“Betul, ada 12 orang jemaah haji asal Indonesia yang sudah layak terbang, 1 orang berada di Rumah Sakit Jeddah, 4 orang di Madinah dan 7 orang berada di Rumah Sakit Makkah,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI Muchtaruddin Mansyur sebagaimana rilis yang diterima dari Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI), Kamis (20/10).

Dari jumlah itu, empat jemaah telah dinyatakan layak terbang sejak Minggu (16/10) lalu, yaitu: Yudi Prayitno bin M Tohar (Malang), Zainab binti Nurdin Rahanar (Maluku), M. Amir bin Samida (Makasar), Zulkaibar bin Mawin Bagindo (Riau). Tiga jemaah dinyatakan layak terbang pada Rabu (19/10), yaitu: Jatmijati Martodihardjo (Tulungagung), Said Idris bin Said Ahmad (Aceh), dan Sarkowi bin Matahit (Banyuwangi). Mereka adalah jemaah haji Indonesia yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi yang berada di Makkah.

Sedang jemaah lainnya yang sudah membaik dan layak terbang dirawat di Rumah Sakit Madinah Munawwarah, yaitu: Catu Astuti binti Samin (Indramayu), Muratun binti Paat (Kendal), Mahfud bin Nawawi (Malang), Siti Daorah binti Manna (Bulukumba).

Muchtaruddin Mansyur meminta agar pasien jemaah haji yang sudah dinyatakan layak terbang oleh pihak rumah sakit bisasegera dipulangkan. Menurut Muchtaruddin, keadaan pasien yang sudah layak terbang harus sesegera mungkin diberangkatkan. Sebab, jika terus ditunda, apalagi tidak jelas waktu kepulangannya, maka hal itu akan berdampak buruk pada kondisi pasien itu sendiri (drop).

“Begitu dapat MEDIF, itu jangan lebih dari 2 hari, mestinya sudah harus diberangkatkan,” jelasnya.

Saat ditanya mengenai pemulangan jemaah yang sakit oleh staf teknis IV, Handi Adji Sentana, mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Maskapai Saudia Jakarta, Gembong. Menurut Handi, Gembong mengatakan bahwa pihak saudia akan menerbitkan tiket baru.

“Mereka akan menerbitkan tiket baru dengan kewajiban KUHI mengirimkan data tiket lama, nomer paspor, asal kloter embarkasi,” jawab Handi menirukan penjelasan Gembong kepadanya.

Menurut Handi, pihak KUHI sudah menjalin komunikasi dengan pihak maskapai sejak 18 oktober dan sudah direspon akan segera ditindaklanjuti. Namun, hingga berita ini ditulis belum ada informasi tentang tiket untuk 12 jemaah sakit yang sudah layak terbang. Pihak KUHI sendiri sudah menyiapkan pendamping pasien yang akan dipulangkan pasca dinyatakan sehat oleh RS Saudi.

Staf Teknis Haji 1 Ahmad Dumyathi Bashori menilai mekanisme pemulangan dari pihak Maskapai Saudia tahun ini birokratis dan menyulitkan. Buktinya, jemaah yang sudah memiliki MEDIF dari RS sejak beberapa hari lalu, belum kunjung mendapatkan tiketnya. “Mekanisme baru ini lamban dan tidak praktis, padahal jemaah sakit harus diterbangkan segera,” ucap Dumyathi.

Padahal sebelumnya, lanjut Dumyathi, mekanismenya lebih mudah. Pihak KUHI dengan cepat membelikan tiket bagi jemaah yang akan dipulangkan dengan mekanisme reemburse dari Saudia Jakarta, tanpa harus mendapatkan persetujuan Saudia Jakarta terlebih dahulu saat pemulangan.

Hal ini urgen dibenahi sebab jemaah sakit pasca perawatan punya waktu terbaiknya yang tidak boleh terlambat sehingga pemulangan mereka harus disegerakan. “Ini masalah perlindungan jemaah yang tidak bisa ditunda,” harap Dumyathi. (kuh/mkd/mkd/kemenag.go.id)

Comments

comments

To Top
Shares