Opini

(OPINI) “Membaca Arah Dukungan Warga NU di Pilgub Lampung 2018”

OPINI

Judul: “Membaca Arah Dukungan Warga NU di Pilgub Lampung 2018

Penulis: SYAHIDAN MH

Politisi tingga di Natar Lampung Selatan.

SYAHIDAN MH

Meski belum terdaftar secara resmi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung, namun publik sudah mulai mengetahui para bakal calon yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung, tanggal 27 juni 2018 mendatang.

Setidaknya akan ada 4 pasang Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) yang akan bertarung dan ke 4 pasang tersebut seluruhnya berasal dari jalur partai politik.

Diawali dengan pendeklarasian pasangan Arinal-Nunik yang di usung oleh Partai Golkar dan PKB, lalu pasangan Mustafa – Ahmad Jajuli yang disung oleh Nasdem, PKS dan Hanura, lalu PDIP menugaskan Herman HN – Sutono yang dengan tertatih-tatih dan nyaris gagal “Nyalon”.

Kemudiaan Partai Demokrat, PPP, Gerindra dan PAN, jika tidak berubah, maka akan mengusung pasangan Muhammad Ridho Ficardo – Helmi Hasan.

Tulisan saya ini, hanya sekedar pendapat pribadi saja, karena saya tidak masuk dalam struktur apapun dalam organisasi Nahdhatul Ulama (NU).

Saya menulis, hanya berdasarkan pengamatan, penglihatan dan sedikit pengalaman ketika dulu saya berkecimpung di PKB. Meski tulisan saya ini masih terlalu pagi untuk dijadikan sebuah pijakan apalagi untuk dijadikan sebuah kesimpulan, tapi minimal, tulisan ini merupakan sedikit pencerah bagi warga Nahdhiyin.

Di Lampung, NU adalah organisasi yang sangat mengakar, bahkan Lampung tercatat sebagai provinsi terbesar diluar pulau Jawa yang terbanyak jumlah warga Nahdhiyinnya.

Dengan kondisi ini, tentu suara NU di Lampung, juga menjadi parameter ditataran tingkat pusat (PBNU).

Dalam kancah politik, NU juga tidak bisa dianggap remeh, meski terkadang sering terjadi pro kontra di kalangan Nahdhiyin, tapi banyak orang yang teramat butuh dengan suara NU, maka tak jarang, sering terjadi mobilisir terhadap warga NU dan juga terhadap para Kyai NU.

Bahkan tak jarang, ada yang mengaku-ngaku NU ketika lagi membutuhkan suara warga NU. Hal ini dapat dimaklumi, karena begitu besar dan begitu menentukannya suara warga NU dalam kontestasi politik, termasuk juga dalam kontestasi Pilgub Lampung 2018.

Lantas akan berlabuh ke Pasangan calon (Paslon) mana suara warga NU di Pilgub Lampung nanti?

Dalam tulisan ini, saya akan berbicara objektif, tidak berniat mengarahkan apalagi mendiskriditkan Paslon tertentu, tulisan saya, benar-benar hanya analisa dan pandangan pribadi saya, meski saya menyadari, akibat tulisan ini, pasti ada perdebatan bahkan bisa saja terjadi pro kontra.

Jika itu terjadi, saya dapat memahaminya karena saya yakin, pada ke 4 paslon yang ada, sudah pasti ada tokoh-tokoh NU dibelakang mereka.

Yang pertama adalah pasangan Arinal – Nunik. Pasangan yang didukung oleh Gokar PKB ini adalah pasangan yang cukup penomenal, karena hingga saat ini, sebagian kader-kader Golkar di Lampung masih terus menggoyang Arinal dan sebagian tokoh-tokoh PKB di Lampung pun masih mempersoalkan pencalonan Nunik.

Meski akhir-akhir ini, suara tersebut sayup-sayup tak terdengar lagi.

Dalam catatan saya, Arinal tidak dihitung dikalangan warga NU. Bisa saja warga NU mayoritas tidak kenal Arinal termasuk pula para Kyai NU yang berada di kampung-kampung tidak banyak tahu dengan Arinal Junaidi.

Hal ini bisa di maklumi, karena saat Arinal meniti karier dibirokrat, Arinal nyaris tak pernah beradaptasi dengan warga NU, Kyai NU dan kegiatan NU, jadi kesimpulannya warga NU acuh tak acuh terhadap pencalonan Arinal sebaga Gubernur Lampung.

Namun aura Arinal agak berbeda, ketika secara tiba-tiba Muhaimin Iskandar (Ketum DPP PKB) mendeklarasikan pasangan Arinal – Nunik.

Nunik adalah bupati Lampung Timur, cah “ndeso”, yang jika bicara masih terasa amat kental “medok” Jawanya.

Trah Nunik teramat jelas, beliau adalah putri Alm KH Abdul Halim (Gus) Halim, salah seorang Kyai NU yang teramat disegani di Lampung, bahkan ditingkat nasional.

Nunik pun meniti karier di NU sebagai aktifitis PMII di Semarang.

Dengan modal seorang bupati di Lamtim dan berasal dari garis keturunan Nahdhiyin tulen, terpasangnya Nunik sebagai Cawagub yang akan mendampingi Arinal, maka pasangan ini, mulai jadi perbincangan serius di kalangan warga Nahdhiyin dan juga tokoh-tokoh Nahdhiyin termasuk pula para pengurus NU pada seluruh tingkatan di Lampung.

Kok saya narik-narik pengurus NU? Saya simple saja dalam memberi analisa. Ketua PW NU Lampung (Shaleh Bajuri) masih terbilang murid Gus Halim. Semasa hidupnya (Gus Halim), Shaleh bajuri teramat dekat, teramat patuh dan teramat ta’zim dengan Gus Halim, dengan kondisi tersebut, tentu saja Shaleh bajuri sedikit banyak, pasti akan melirik pasangan Arinal Nunik.

Selain itu, sebelum menjadi ketua PWNU Shaleh Bajuri adalah anggota DPRD Lampung asal PKB, dan Shaleh Bajuri menjadi ketua PWNU seluruhnya merupakan campur tangan Musa Zainudin (ketua DPW PKB Lampung) dan saat pilkada Lamsel 2015 lalu, lagi-lagi Shaleh Bajuri adalah calon bupati Lamsel yang diusung PKB.

Kemudian Ariyanto Munawar (sekretaris NU Lampung), juga tak jauh beda dengan Shaleh Bajuri, dia bisa menduduki posisi sekretaris PW NU Lampung, atas budi baik Musa Zainudin bahkan saat Pileg 2014, Ariyanto Munawar adalah caleg DPR RI Dapil Lampung 1 no urut 2 (dibawah Musa Zainudin) dari PKB.

Selanjutnya, anak-anak muda NU termasuk para pengurus NU, baik di PW, PC maupun MWC (pengurus kecamatan), saat ini mayoritas menjadi Tenaga Ahli (pendamping dana desa), mereka menjadi TA, konon kabarnya atas rekom NU, yang sama2 kita ketahui, menteri PDT adalah kader PKB, di mana ketum PKB adalah Cak Imin.

Melalui jaringan Cak Imin ini, bisa saja para TA DD tersebut kelak akan mendapat arahan untuk membela pasangan Arinal – Nunik, tak terkecuali, jika kelak pun Musa Zainudin memberikan arahan kepada PW NU dan jajarannya untuk juga membela Arinal Nunik, tentu PW NU akan berat untuk menolak, karena sama-sama kita ketahui Nunik adalah salah satu anak “emas” Musa Zainudin dan pengurus PW NU murni merupakan jaringan Musa Zainudin.

Lantas bagaimana pasangan Mustafa – Ahmad Jajuli di mata warga NU? Mustafa adalah sosok bupati yang amat dekat dengan kalangan warga NU. Bahkan dikalangan Kyai NU, Mustafa selalu mendapat pujian yang luar biasa.

Tak jarang ketika saya bersilaturahmi dengan para Kyai, tanpa sungkan para Kyai tersebut memberi 2 jempol, kepada bupati Lamteng ini sebagai bentuk rasa kagum para Kyai terhadap kiprah Mustafa dalam membina warga Nahdhiyin.

Bahkan grup-grup seni Hadrah, yang tersebar pada hampir seluruh pesantren di Lampung, menyelipkan bait yang berbunyi “Habib Syeh, gurunya NU. Mustafa bupatinya NU…. Dst”.

Dan itu selalu dinyanyikan oleh para santri-santri NU di pondok-pondok mereka bukan hanya di Lamteng saja, hampir di semua pesantren di Lampung, termasuk Pesantren di Lamtim. Loh kok di Lamtim juga? Ya, karena saat liburan bulan desember kemarin, anak saya yang sedang nyantri di Lamtim, selalu bersenandung dengan bait-bait tersebut dihadapan saya dan dia amat faham dengan sosok Mustafa dan Habib Syeh.

Mustafa adalah ketua Syahermania Lampung, yang rutin mengadakan kegiatan Shalawatan di seantero Lampung yang dipimpin oleh Habib Syeh.

Pada setiap perhelatan acara shalawatan tersebut, ratusan ribu jamah tumpah ruah, dan itu adalah warga NU dan Mustafa adalah figur central dalam kegiatan tersebut.

Siapakah Ahmad Jajuli yang didapuk Mustafa sebagai calon Wagubnya? Ahmad Jajuli saat ini tercatat sebagai anggota DPD RI (sudah 2 periode) sebelum menjadi anggota DPD.

Dia adalah anggota DPRD Provinsi Lampung asal PKS. Jajuli adalah kader inti PKS bahkan sempat menjadi pengurus elit di DPW PKS Lampung.

Jujur harus saya katakan, warga NU agak “risih” dengan PKS. Hal ini bisa dimaklumi, karena warga NU memendam luka terhadap PKS, sejak berdirinya PK (kemudian menjadi (PKS), partai ini tak bosan2 berseberangan (berseteru) dengan NU. Partai ini kerap mengkritik faham NU, bahkan partai ini pula, berada dalam satu gerbong dengan anggota DPR RI tahun 2001 yang pro SI MPR yang melengserkan Gusdur (GD) sebagai presiden.

Bahkan sikap “nakal” PKS terdap NU dan GD terus berlanjut, meski GD tak lagi jadi presiden.

Puncaknya ketika Pileg 2004 lalu, banyak sekali anak muda penggiat di Remaja Islam Masjid, menyetel CD yang berisi kegiatan GD di Manado, yang seakan GD sedang di baptis oleh pendeta, dan penyetelan CD tersebut, dilakukan di Mushola, terkadang di masjid dan dirumah-rumah penduduk dan itu dilakukan diwilayah basis NU, termaasuk di kec Natar.

Karena tahun 2004 saya adalah ketua DPC PKB LS, saya pun sempat mengamankan berpuluh2 keping CD dari seluruh wilayah Lamsel dan kasus itu saya laporkan ke pihak berwajib, tapi tidak ada tindak lanjut proses hukuim dari pengaduan tersebut, karena itu saya tidak berani berkesimpulan untuk menyatakan itu dilakukan oleh simpatisan atau kader PKS.

Dengan adanya luka yang masih terasa nyeri di badan warga NU, maka hingga saat ini, antara NU dan PKS masih blm menunjukkan tanda-tanda keakurannya.

Pasangan selanjutnya adalah Herman HN – Sutono. Pasangan ini relatif tidak banyak bergerak dilingkungan KBNU, karena Herman HN. Lebih mengedapankan MT Rahmat Hidayat dan orang lebih mengenal Herman HN sebagai Walikota fly over.

Yang terakhir adalah pasangan M Ridho Ficardo – Helmi Hasan (jika pasangan ini, benar terwujud). Sebagai gubernur petahana, tentu aktifitas Ridho dikalangan warga NU tidak perlu diragukan lagi. Banyak para Kyai, tokoh dan warga NU, yang sudah diberangkatkan umroh dengan dana APBD.

Bahkan saat ini, banyak Kyai NU di kampung-kampung yg ditunjuk sebagai koordinator pendamping ziarah walisongo yang juga dibiaya APBD Lampung.

Kegiatan umroh dan ziarah ini, sedikit banyak tentu akan meningkatkan elektabilitas Ridho dikalangan warga NU, apalagi sekretaris DPW PD Lampung Fajrun Najah Ahmad (Fajar) adalah orang NU tulen, beliau adalah putra KH Nuril Huda, mantan anggota DPR RI Dapil Lampung asal PKB, mantan Ketum Pengurus Pusat Lembaga Dakwah NU (LDNU) dan salah seorang Kyai kharismatik di Lampung.

Dengan bermodalkan ketokohan orang tuanya, Bang Fajar tentu mempunyai banyak jaringan di tubuh NU.

Problem Ridho ada di Helmi Hasan. Publik Lampung tentu belum banyak yang faham dengan Helmi Hasan, karena memang selama ini, Helmi Hasan, banyak berada di Bengkulu.

Nama besar Zulkifli Hasan yang Ketum PAN dan juga Ketua MPR RI, tentu akan memudahkan Helmi Hasan untuk mendonglrak popularitasnya. Namun ketika warga NU di Lampung tahu, bahwa Helmi Hasan adalah adik kandung Zainudin Hasan, bupati Lamsel, maka disitulah publik dan warga NU Lampung mikir beribu kali untuk meneruskan dukungan terhadap pasangan Ridho-Helmi.

Ya! Zainudin Hasan masih meninggalkan luka mendalam bagi warga NU, saat berpidato di Hari Santri Nusantara, di kalianda tahun 2017 lalu. Akibat pidato Zainudin tersebut, warga NU membara, dari berbagai penjuru Lampung, warga NU membanjiri Kalianda untuk berdemontrasi guna menuntut Zainudin Hasan meminta maaf.

Meski akhirnya Zainudin Minta maaf, tapi tentu luka tersebut masih terasa perih dan di Pilgub Lampung ini, luka warga NU belumlah sembuh.

Dinamika ditubuh NU dalam menentukan arah dukungan terhadap calon, masih teramat dinamis, karena Pilgub masih 6 bulan lagi. Masing-masing Paslon ada kelebihan dan juga ada kekurangannya, tentu masih ada ruang untuk menutupinya.

Selamat berkontestasi bagi para paslon, dan saya meyakini, Paslon akan banyak yang ikut tahlilan, yasinan dan sholawatan, meski mereka sebenarnya amat anti dengan kegiatan dan rutinitas warga “sarungan” ini. Tabikpuun sikanduwa cuma bebukhita… (*)

Comments

comments

Berita Popular

To Top
Shares