Opini

(OPINI) Natar Agung: Isu Seksi saat Pilkada, dibuat Merana saat Berkuasa

(aka)

OPINI:

Oleh: SYAHIDAN MH.

Politisi, tinggal di Natar, Lampung Selatan

Judul: Natar Agung: Isu seksi saat Pilkada, dibuat merana saat Berkuasa.

SYAHIDAN MH

September 2009, beberapa orang teman yaitu : Bejo Susanto, Supriyanto Hutagalung, Edy Swaspodo, Kyai Fadholi, Jauhari Rihantono, Yitno Wibowo dan saya, berkumpul dirumah Mas Edy Swaspodo di Desa Natar. Kami berbincang serius dengan satu tema, mewacanakan pemekaran kabupatenupaten Natar, sebagai daerah otonom tersendiri lepas dari kabupaten Lampung Selatan.

Kami ngobrol dan diskusi amat serius, sehingga tak terasa waktu makan siang tiba dan Mas Edy terpaksa keluar rumah untuk membeli nasi padang, untuk kami santap, karena kebetulan, istri Mas edy sedang tidak ada dirumah. Diskusi dan obrolan kami mengurucut pada suatu kesimpulan, bahwa kami sepakat, akan membuat draf usulan (proposal) pengajuan pembentukan kabupaten Natar, dan sayalah yang diberi tugas untuk membuatkan draf proposal tersebut.

Tanpa mengalami kesulitan, draf proposal tersebut, dalam beberapa hari telah rampung saya kerjakan, karena memang saya pernah mempunyai pengalaman sebagai sekretaris umum Panitia Pembentukan dan Pemekaran kabupaten Pesawaran.

Draf proposal yang saya buat, hanya menjadikan 1 kecamatanamatan, yaitu kecamatanamatan Natar saja sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB). Skenario yang saya masukkan dalam draf proposal tersebut adalah, kelak saat pembahasan DOB, maka Natar pun akan dimekarkan menjadi 5 kecamatan.

Dengan demikian, jika kelak Natar jadi DOB, maka kabupaten Natar mempunyai 5 kecamatan yakni kecamatan Natar, Natar Timur, Natar Utara, Natar Selatan dan Natar Pusat.

Setelah usulan draf proposal tersebut rampung saya buat, maka saya, Mas Bejo, Bang Galung (Supriyanto Hutagalung), dan Mas Edy swaspodo, kembali bertemu di rumah Mas Edy. Saya paparkan draf tersebut dan teman-teman menyetujuinya.

Langkah selanjutnya, kami menghubungi teman-teman lainnya di kecamatan Natar untuk meminta tanda tangan perwakilan warga per desa. Alhamdulillah tanpa kendali, dukungan dari warga kecamatanamatan Natar, untuk membubuhkan tanda tangannya luar biasa banyaknya.

Setelah tanda tangan dukungan kami dapatkan, kami pun membuat surat ke DPRD Lampung Selatan dan Kami berempat (saya, Mas Bejo, Bang Galung dan Mas Edy) yang menanda tangani surat tersebut sebagai inisiator pembentukan kabupaten Natar.

Surat tersebut, kami sampaikan ke DPRD Lampung Selatan. Karena saat itu (akhir bulan september) DPRD Lampung Selatan belum mempunyai pimpinan definitif, oleh ketua DPRD Sementara (ibu Siti Farida), kami dijanjikan akan diundang oleh pimpinan sementara dan pimpinan fraksi sekitar bulan November 2009.

Saat hari raya idul fitri akhir oktober 2009, saya bersilaturahmi dikediaman Bang Fajar (Fajrun Najah Ahmad), di Jalan Sultan Agung, Way Halim. Saat berbincang lepas, saya bercerita tentang niat kami untuk menginisiasi pembentukan kabupaten Natar, dan rupanya cerita saya dimuat oleh Bang Fajar di koran Fokus, tabloid milik beliau.

Bang Fajar dalam beberapa minggu cukup aktif menyajikan berita tentang pembentukan kabupaten Natar, selain menyajikan latar belakang pembentukan DOB Natar, juga bang Fajar meminta pendapat, komentar dan analisa dari berbagai kalangan, termasuk meminta komentar dari Ibu Siti Farida (Ketua DPRD Sementara Lampung Selatan).

Akibat pemberitaan tersebut, maka wacana pembentukan kabupaten Natar menjadi ramai diperbincangkan. Saat ramai diperbincangkan itulah, Ahmad Bastian saya, yang berdomisili di Way Hui berkomunikasi dengan saya dan mengusulkan Jati Agung diikut sertakan.

Komunikasi yang cukup inten dengan bang Bastian tersebut saya sampaikan dengan teman-teman inisiator pembentukan kabupaten Natar. Melalui beberapa kali pertemuan dengan bang Bastian, akhirnya kami menyepakati Jati Agung dimasukkan dalam calon kabupaten Natar dan kamipun menyepakati nama kabupaten tersebut adalah kabupatenupaten Natar Agung (Natar-Jati Agung).

Bulan November 2009, sesuai janji ketua sementara DPRD Lampung Selatan (Ibu Siti Farida), kami akhirnya diundang ke kantor DPRD Lampung Selatan. Maka kami para inisiator ditambah oleh tokoh-tokoh adat seperti H. Aliudin MS, MI Junaidi (Suttan unjunan), Kusairi (Pengiran Unjunan), tokoh agama, perwakilan BPD dari kecamatan Natar dan teman-teman dari Jati Agung yang dikomandoi oleh Ahmad Bastian mengadakan pertemuan dengan seluruh pimpinan DPRD Lampung Selatan dan para ketua-ketua fraksi hasil Pileg 2009.

Kesimpulan dari hasil pertemuan tersebut, jika pimpinan DPRD Lampung Selatan telah definitif, maka kami akan diundang secara resmi oleh DPRD Lampung Selatan untuk mengadakan hearing. Usai pertemuan dengan pimpinan sementara tersebut, kami para inisiator kembali bertemu dikediaman Mas Edy Swaspodo, untuk membicarakan panitia pemekaran.

Pada sisi lain, media pun sudah banyak yang turut mempublikasikan wacana pembentukan kabupaten Natar Agung tersebut. Dalam berbagai pertemuan dengan teman-teman inisiator, kami agak kesulitan untuk mencarikan figur Ketua Umum Panitia Pemekaran. Maka kami ber inisiatif untuk menghubungi tokoh-tokoh penting di Natar untuk ditawari guna menjadi Ketua umum, panitia pemekaran kabupaten Natar Agung.

Mas Edy Swaspodo menghubungi Bapak Mayjend Namoeri Anom, tapi beliau tidak bersedia, Bang Bastian menemui Bapak Edy Sutrisno dan Bapak Brigjen Bambang Sudibyo, tapi lagi-lagi beliau berdua tidak bersedia.

Saya pun mencoba untuk menghubungi Bapak Muttaqin Jaya Taruna, tapi beliau juga tidak bersedia. Mas Eky Setyanto pun kami tawari, namuin Mas Eky jg belum bersedia.

Karena tim inisiator agak kesulitan menemukan figur calon Ketum panitia pemekaran, maka komposisi panitia masih kami susun dengan formasi Ketum kosong, Waketum (Ketua harian) saya, sekretaris Bejo Susanto, Bendahara Chandra, dilengkapi dengan para wakil ketua, wakil sekretaris, wakil bendahara, divisi-divisi dan tim sekretariat.

Saat Partai Amanat Nasional (PAN) berkongres di Batam, sekitar akhir desember 2009, Mas Bejo selaku sekretaris PAN Lampung Selatan juga ikut serta dan di Batam itu, beliau berbicara dengan Pak Irfan Nuranda Djafar (kala itu ketua DPW PAN Lampung) tentang rencana pemekaran kabupaten Natar Agung, dan tanpa diduga Pak Irfan menyanggupi untuk menjadi Ketum Panitia Pemekaran.

Banyak orang yang bertanya, kok Pak Irfan? Ya, Pak Irfan bukan orang asing di Lampung Selatan, orang tua beliau Alm H. Djafar Amid adalah mantan bupati Lampung Selatan dan Keluarga besar pak Irfan, banyak mempunyai aktifitas di Way Huwi.

Tanggal 6 Januari 2010, secara resmi DPRD Lampung Selatan mengundang panitia pemekaran untuk hearing. Di komandoi oleh pak Irfan Nuranda Djafar, Panitia DOB Natar Agung hadir di gedung dewan.

Komisi A yang membidangi pemerintahan, menemui kami (kala itu ketuanya adalah pak Jamhari), juga ikut rapat adalah bapak Azmi Aziz (kordinator komisi A) dan seluruh anggota DPRD Lampung Selatan asal dapil Natar.

Dari kalangan pemerintahan terlihat cukup lengkap, ada bagian hukum, bagian pemerintahan, bagian ortala dll. Setelah panitia memaparkan rencana usulan pemekaran, maka terjadilah diskusi antar peserta rapat.

Rupanya PP yang baru (saya lupa PP no berapa) mengharuskan, bahwa syarat administrasi untuk pemekaran harus ada 5 kecamatan. Padahal usulan kami hanya 2 kecamatan, yaitu Natar dan Jati Agung.

Setelah Panitia Pemekaran, DPRD Lampung Selatan dan Perwakilan Pemkab Lampung Selatan berunding, maka disepakatilah 3 kesimpulan sebagai keputusan rapat. Yaitu 1. kabupaten Natar Agung disepakati ada 5 kecamatan yaitu Natar, Jati Agung, Tanjung Bintang, Tanjung Sari dan Merbau Mataram. 2. Panitia Pemekaran diberikan waktu untuk melengkapi dan mengubah usulan proposal pemekaran dan DPRD Lampung Selatan akan kembali mengundang panitia pemekaran untuk mengadakan rapat2 di DPRD minimal 2 bulan sekali. 3. Selama proses pembahasan pemekaran, maka 5 kecamatan tersebut tidak boleh dimekarkan.

Hasil hearing tersebut dengan sigap ditindak lanjuti oleh panitia dan dalam waktu 1 bulan, seluruh berkas dari 5 kecamatan tersebut telah lengkap. Namun sayang, rupanya Pemkab Lampung Selatan (kala itu bupatinya Wendy Melfa) mulai berubah fikiran, begitu juga dengan DPRD Lampung Selatan, rapat yang dijanjikan tiap 2 bulan, tidak dilaksanakan.

Karena tahun 2010 adalah tahun Pilbup Lampung Selatan, dan kebetulan Wendy akan kembali maju, maka proses pemekaran agak tertunda. Tapi rupanya itu hanya strategi Pemkab saja, karena tanpa di duga atas perintah bupati, camat Natar (kala itu adalah Drs Burhanudin) mengumpulkan seluruh BPD dan Kades se Natar di desa Purwosari, dengan tujuan untuk memekarkan kecamatan Natar Timur.

Sikap ini, tentu saja mendapat tantangan dari tokoh-tokoh Natar, dan karena momennya sedang ada Pilbup Lampung Selatan, maka sikap Pemkab Lampung Selatan yang mau memekarkan kecamatan Natar Timur, dijadikan sentimen negatif terhadap Wendy, dan karena kebetulan Eky Setyanto juga maju sebagai Cawabup berpasangan dengan Rycko,

Maka isu ketidak setujuan Wendy memekarkan kabupaten Natar Agung, akhirnya menguatkan tekat warga Natar untuk tidak ke Wendy dan akhirnya warga berada dibelakang Ricko-Eki yang salah satu tagline kampanyenya adalah mendukung pembangunan Natar menjadi kota baru yang termasuk didalamnya adalah mendukung pemekaran kabupaten Natar Agung.

Pasangan Ricko Eki menang dan dilantik bulan Agustus 2010, tapi sayang, pasangan ini langsung pecah kongsi dan imbasnya juga masuk ke ranah pemekaran Natar Agung, karena Rycko menganggap, Natar Agung identik dengan Eky. Meski Pemkab Lampung Selatan, kurang mendukung.

Tapi panitia pemekaran terus bekerja, sosialisasi terus dijalankan di 5 kecamatan tersebut. Bahkan Panitia Pemekaran berhasil mendapatkan dukungan tertulis dari seluruh BPD pada 5 kecamatan calon wilayah kabupaten Natar Agung.

Tak mau ketinggalan pula, Pemkab Lampung Selatan, juga terus menggoyang kerja panitia, di kecamatan Natar, dibawah komando camat Natar (kala itu Bayana), berulang-ulang mengumpulkan para kades se Natar, untuk kembali memekarkan kecamatan Natar timur, tapi upaya Bayana tersebut selalu kandas.

Gagal memekarkan Natar Timur, Pemkab Lampung Selatan, berencana memekarkan kecamatan Negeri Baru, yaitu gabungan beberapa desa di Jati Agung dan beberapa desa di Tanjung Bintang.

Kecamatan Negeri Baru berada di sekitar Kota Baru. Niat Pemkab Lampung Selatan, untuk memekarkan kecamatan Negeri Baru, hampir terwujud, namun lagi-lagi dengan kegigihan panitia pemekaran meyakinkan anggota DPRD Lampung Selatan, maka niat tersebut juga kandas.

Meski demikian, Pemkab Lampung Selatan tetap kekeh dengan keyakinannya, tidak mau memproses pemekaran kabupaten Natar Agung. Buntu dengan jalan yang ditutup Pemkab Lampung Selatan, maka panitia mulai melobi Pemprov Lampung, dan setelah beberapa kali panitia pemekaran kabupaten Natar Agung bertemu dengan Pemprov, maka saat Pak Kherlani menjadi Pjs bupati Lampung Selatan tahun 2015.

Beliau menganggarkan dana sebesar Rp 1 Milyar dalam APBD 2016, untuk percepatan proses pemekaran. Karena tahun 2015 adalah tahun Pilkada, dan Ricko yang kembali maju sebagai calon bupati, tetap konsisten tidak mendukung pemekaran Natar Agung.

Zainudin Hasan, yang juga maju dalam Pilkada, menjadikan isu pemekaran Natar Agung sebagai jualan politiknya.

Saat debat kandidat bulan oktober 2015 di Tabek Indah, Zainudin terang-terangan berjanji dan bersumpah, jika Ia menang dan dilantik jadi bupati Lampung Selatan, maka kabupaten Natar Agung akan berdiri.

Janji dan sumpah Zainudin tersebut, terus Ia sampaikan pada setiap kesempatan jika Ia berkampanye di Natar. Namun sayang, setelah Zainudin dilantik bulan Februari 2016, anggaran yang telah diusulkan oleh Kherlani malah Ia coret dan kini setelah 2 tahun Ia berkuasa, Zainudin malah berbalik arah, tidak mendukung pemekaran kabupaten Natar Agung. Tabikpuun sikanduwa nuppang cekhita… (*)

Comments

comments

Berita Popular

To Top
Shares