Opini

(OPINI) Nunik, Srikandi PKB Sukses di Karier Politik hasil dari sebuah Konflik

OPINI

PENULIS: SYAHIDAN MH.

Politisi, tinggal di Natar. Lampung Selatan

Syahidan MH.

Sepanjang karier saya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari tahun 1998-2007 dan dua periode saya duduk sebagai Anggota Legislatif (Aleg) di DPRD Lamsel tahun 1999-2009, tercatat hanya dua kali saya bertemu dengan Chusnunia Halim (Nunik), yaitu tahun 2003 dan 2006.

Itupun saya bertemu, karena kebetulan saya mengantarkan almarhum orang tua beliau yaitu KH. Abdul Halim atau sehari-hari masayaarakat memanggil beliau dengan panggilan “Gus Halim”.

Saya berhubungan baik dengan orang tua Nunik, saya pun sering bahkan acapkali bersilaturahmi dengan Gus Halim di rumah beliau di Desa Karang Anom, sebuah desa yang cukup terpencil dibilangan Lampung Timur.

Saya suka meminta nasehat, pendapat dan arahan dari almarhum, bahkan Gus Halim pun sering ke rumah saya di Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Gus Halim juga dekat dengan almarhum orang tua saya, kakak-kakak saya dan istri saya. Bahkan ketika anak saya (Ma’ruf Ridho sayaahrofi) di khitan tahun 2006, Gus Halim seharian berada dirumah saya guna memberikan penghormatan kepada saya sebagai bentuk dan wujud amat dekatnya hubungan silaturahmi kami berdua.

Saya pun sudah terbiasa bepergian dengan Gus Halim, baik ke Semarang, Magelang, Jogja, Jakarta dan lain-lain dalam rangkaian kegiatan partai dan kegiatan kyai NU dan Gus Halim selalu berada satu kendaraan dengan saya ditemani oleh Badarudin Muslihun (ketua FKB DPRD Lamsel 2004-2009).

Tapi sayang, ketika saya sowan ke rumah Gus Halim di Karang Anom, saya memang tidak pernah bertemu dengan Nunik, karena memang kabarnya sejak kecil Nunik berada di Semarang dan menyelesaikan kuliahnya pun di IAIN semarang.

Saya pertama kali bertemu dengan Nunik, adalah tahun 2003, ketika saya dan Gus Halim bersama-sama ke Semarang. Gus Halim saat itu menyempatkan diri bertemu dengan Nunik di Semarang dan yang kedua tahun 2006, saat saya dan Gus Halim ada acara di Jakarta dan kami menyempatkan diri menemui Nunik di kantor DPP PKB di bilangan Kalibata, Jakarta.

Lantas bagaimanakah karier Nunik di PKB bisa cemerlang seperti saat ini? Nunik pada awalnya adalah staf (Tenaga Ahli) wakil ketua DPRD Jateng, asal PKB Abdul Kadir Kardieng, yang menjadi wakil ketua DPRD Jateng tahun 1999-2004, setelah Karding menjadi anggota DPR RI 2004-2009, Nunikpun ikut hijrah ke Jakarta dan menjadi kepala sekretariat DPP PKB.

Lantas bagaimana Nunik bisa menjadi anggota DPR RI tahun 2009 lalu?. Sama-sama kita ketahui bersama, PKB sejak awal berdirinya selalu berkonflik ditingkat pusat dan imbas konflik itupun merambah ke DPW PKB Lampung.

Di awali konflik pertama pasca Sidang Istimewa (SI) MPR tahun 2001 yang melengserkan Gus Dur (GD) dari kursi Presiden. Kala itu terjadilah konflik antara Matori Abdul Jalil dan GD. Matori yang pro SI di pecat oleh GD dan Matori tetap bersikukuh menjadi Ketum PKB dengan Sekjen adalah Abdul Kholik Ahmad.

Sementara GD melaksanakan Munas Luar Biasa (MLB) di Jogjakarta tahun 2002 dengan menghasilkan duet Alwi Shihab dansayaaifullah Yusuf (Gus Iful) masing-masing sebagai Ketum dan Sekjen DPP PKB.

Konflik Matori dan GD ini, berimbas pula ke Lampung, kubu Matori di Lampung di Motori oleh Mukhtar Hasan, Agusman Arief, Jauhararoh Hadat, Alm Fes Muhammad dll. Sementara kubu GD di gawangi oleh sayaafrin Romas, M Habib dan termasuk saya selaku ketua DPC PKB LS.

Masuk dalam jajaran kubu Matori di Lampung adalah Shaleh Bajuri (kini ketua PW NU Lampung), bahkan saat Pemilu Legislatif (Pileg) 2004, Shaleh Bajuri yang saat itu adalah Ketua PC NU Lamsel, berkampanye untuk PBR dan dalam kampanyenya selalu berteriak-teriak, bahwa “Warga NU di Lamsel boleh memilih partai apa saja kecuali PKB.”

Tapi penggembosan yang dilakukan oleh Shaleh bajuri tersebut tidak berhasil, malah PKB Lamsel adalah satu-satunya DPC yang berhasil menambah perolehan kursi dari 4 kursi hasil Pemilu 1999-2004 menjadi 5 kursi hasil Pemilu 2004-2009 dan saat itu saya adalah Ketua DPC PKB Lamsel.

Pasca Pemilu 2004, PKB kembali berkonflik, imbas dari Pilpres 2004, saat itu GD menolak pencalonan SBY sebagai Presiden tapi Alwi Shihab dan Gus Iful selaku Ketum dan Sekjen PKB tetap mendukung SBY dan lagi-lagi GD kembali memecat Alwi Shihab dan Gus Iful dari jabatan Ketum dan Sekjen DPP PKB dan mengangkat Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar sebagai Pjbt Ketum PKB dan Sekjen DPP PKB.

Sebagai ucapan trmksh SBY kepada Alwi dan Gus Iful, mereka berdua menjadi menteri di awal-awal era SBY menjabat presiden. Saat keduanya menjadi menteri itulah, Alwi dan Gus Iful menggugat pemecatan mereka berdua ke pengadilan dan pengadilan memenangkan gugatan tersebut, sehingga Alwi dan Gus Iful tetap sah sebagai Ketum dan Sekjen DPP PKB.

Muktamar PKB tahun 2005 di Semarang diharapkan sebuah upaya mengakhiri konflik. Dalam Muktamar tersebut, Gus Iful mencalonkan diri sebagai Ketum, dan beliau di dukung mayoritas DPW dan DPC PKB seluruh Indonesia, namun sayang muktamar di Semarang tersebut penuh dengan intrik dari Kubu Muhaimin, yang kala itu adalah Ketua panitia Muktamar dan sekaligus calon Ketum yang akan berhadapan dengan Gus Iful.

Melihat kondisi yang agak janggal tersebut, kubu Alwi Shihab dan Gus Iful keluar dari Arena muktamar, tapi Kubu Muhaimin tetap melanjutkan Muktamar dan terpilihlah Muhaimin sebagai Ketum dan Lukman Edy sebagai Sekjen DPP PKB dan Ketua Dewan sayauro tetap dipegang GD.

Imbas dari Hasil Muktamar tersebut, kubu Alwi Shihab kembali menggugat ke pengadilan dan sempat memenangi gugatan tersebut di pengadilan tingkat pertama. Perpecahan di DPP PKB tersebut juga berimbas ke Lampung.

Kubu Muhaimin-Gusdur di Lampung, tetap di komandoni oleh sayaafrin-Habib dan diluar dugaan saya, Shaleh Bajuri yang tahun 2004 melakukan penggembosan terhadap PKB, kembali berbalik arah menjadi pendukung PKB GD dan saat itu jargon yang amat terkenal yang dilakukan oleh shaleh Bajuri adalah “Ikut GD berarti ikut kyai, ikut Alwi (sayaahidan) adalah ikut preman”.

Kubu Alwi akhir tahun 2006, membuat arateker DPW PKB Lampung dengan menunjuk Alm Harun Muda Indrajaya, sebagai ketua carateker dan bulan Mei tahun 2007, Kubu Alwi Shihab-Gus Iful melaksanakan Muswil di Lampung (di Hotel sayaahid Bandar Lampung) dan saya berhasil mengalahkan Jolly Sanggam (saat ini Ketua DPW Perindo Lampung) dalam pemilihan ketua, dan saya akhirnya menjabat Ketua DPW PkB Lampung pro Alwi Shihab didampingi oleh Mofaye Caropaboka (saat ini adalah Ketua garda pemuda nasdem Prov Lampung) sebagai Sekum DPW PKB pimpinan saya.

Namun sayang, gugatan Alwi Shihab pada bulan Agustus 2007, dikalahkan pada tingkat kasasi dan Alwi Shihab mendirikan PKNU, karena saya msh tercatat sebagai anggota DPRD Lamsel, maka saya mundur dan tidak bersedia menjadi ketua DPW PKNU Lampung serta saya memilih Mofa sebagai Ketua PKNU Lampung dan Yansen Zainabun sebagai Sekum DPW.

Kemenangan kubu Cak Imin-GD pada tingkat kasasi, membuat teman2 saya yang pro Alwi harus ter PAW dari anggota DPRD, termasuk Joli Sanggam di PAW dari DPRD Kota Bandar Lampung, Ahmad Syafe’I (kini akan maju sebagai cawabup Tanggamus) harus ter PAW dari anggota DPRD Tanggamus,

Hadi Siswanto harus ter PAW dari DPR Lampura dan Kustini Subagio ter PAW dari anggota DPRD Tulang Bawang, sementara saya, meski berkas usulan PAW telah diajukan sejak tahun 2006, tapi sampai akhir masa jabatan periode kedua saya tahun 2009, saya tidak bisa ter PAW dan saya bisa mengahiri masa jabatan saya dengan sempurna selama 2 periode yaitu tahun 1999-2004 dan 2004-2009 (selama 10 tahun).

Pasca kemenangan Cak Imin dan GD atas Alwi Shihab, maka DPW PKB Lampung melaksanakan Muswil pada akhir tahun 2007 dan terpilihlah Musa Zainudin sebagai ketua DPW menggantikan sayaafrin Romas. Rupanya konflik di DPP PKB belumlah berakhir, sekitar awal tahun 2008, lagi-lagi GD kembali memecat Muhaimin iskandar dari jabatan kKetum dan lagi-lagi pengadilanlah tempat PKB menyelesaikan konfliknya.

Imbas perpecahan antara GD dan Cak Imin, juga terjadi di Lampung, Kelompok cak Imin di Lampung di komandoni oleh Musa Zainudin, sementara kelompok GD membentuk cateker di Lampung dengan Hermawi F Taslim (ketua DPP PKB) sebagai ketua cateker, dan lagi-lagi Shaleh Bajuri bermanuver, jika tahun 2004 dia menggembosi PKB Gus Dur, dengan jargon kampanyenya “warga NU blh memilih partai mana saja, kecuali PKB” tahun 2006 dia kembali ke PKB GD dengan jargonnya “ikut GD adalah ikut kyai dan ikut Alwi (Sayahidan) adalah ikut preman.

Tahun 2008 ketika GD berkonflik dengan Muhaimin, Shaleh Bajuri malah mendukung PKB Muhaimin dan meninggalkan GD. Upaya hukum yang dilakukan oleh Cak Imin, oleh pengadilan diputuskan bahwa posisi kepengurusan DPP PKB dikembalikan ke hasil Muktamar Semarang, dimana hasil Muktamar Semarang adalah Cak Imin sebagai ketum DPP PKB dan GD sebagai ketua Dewan Syuro.

Namun Muhaimin malah mendaftarkan pengurus DPP PKB Hasil MLB di Ancol dan mengganti GD sebagai ketua Dewan Syuro. Lantas dimana posisi Nunik? Saat Abdul Kadir Karding (1999-2004) menjabat Wakil ketua DPRD Jateng, Nunik adalah staf pribadi Karding, ketika bulan Oktober 2004, Karding menjadi anggota DPR RI hasil pileg 2004, Nunik pun diajak Hijrah Ke Jakarta oleh Karding.

Karding adalah orang yang teramat dekat dengan Muhaimin Iskandar, sehingga dengan kedekatan itulah, Nunik bisa masuk menjadi staf di DPP PKB dan akhirnya bisa menjadi kepala sekretariat DPP PKB. Saat konflik antara Cak Imin dan GD, Nunik berada di barisan Cak Imin dan tahun 2009.

Dalam usia yang masih belia, Ia menjadi Caleg DPR RI Dapil Lampung 2 dan terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 dilanjutkan periode 2014-2019, tapi tahun 2015 Nunik terpilih jadi Bupati Lampung Timur.

Ya tak banyak orang Lampung yang tahu sejarah Nunik, karena Nunik lahir, tampil dan Sukses berkarier politik hasil dari sebuah konflik didalam tubuh PKB, jika PKB tidak berkonflik, bisa jadi tidak ada Nunik di Lampung.

Nunik adalah loyalis sejati Muhaimin, melalui tangan Muhaiminlah Nunik muncul di kancah politik Nasional, jadi wajar, jika Nunik amat patuh dengan Muhaimin. Terus berjuang Nunik, politik adalah kepentingan dan bisa jadi, ini adalah kesempatan dan kesempatan tidak akan terjadi 2 kali. @catatan pagi, sambil minum kopi. (*)

Comments

comments

Berita Popular

To Top
Shares