Lampung Selatan

PKS Dituduh Bermain di Pasar Sidomulyo, PKS Membantah

Gerbang pasar Sidomulyo, Lampung Selatan. (foto: ade)

Lnews.co, SIDOMULYO – Mantan anggota DPRD Lampung Selatan dari Fraksi PKS, ditengarai ikut bermain dalam kisruh pasar baru Sidomulyo. Tudingan ini dibeberkan oleh salah seorang aktifis pembela pedagang yang juga warga Sidomulyo, Sariyanti.

“Saya membela para pedagang yang sudah berjualan antara satu tahun sampai 30 tahun. Seharusnya merekalah yang berhak mendapatkan los atau kios yang baru dibangun oleh pemerintah, bukan para orang-orang yang punya uang atau yang sanggup membayar untuk bisa mendapatkan kios atau los kepada salah satu mantan anggota dewan dari fraksi PKS yang kini menjadi ketua para pedagang pasar di kecamatan sidomulyo itu.” bebernya Sariyanti, dua hari yang lalu.

Menurut Sariyanti, ketua Pedagang Pasar Sidomulyo tersebut bernama M. Nurdin, Mantan Anggota DPRD Lampung Selatan periode 2009-2014, dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.

Mendengar tudingan tersebut, Lnews.co kemudian menghubungi M. Nurdin untuk meminta pernyataanyanya atas tudingan yang disampaikan Sariyanti. M. Nurdin membantah tuduhan tersebut.

“Tidak ada yang bayar ke saya untuk mendapatkan kios atau los di pasar Sidomulyo. Tidak benar itu. Sariyanti itu bukan pedagang, tapi hak dia untuk membela pedagang yang belum dapat tempat. Dalam catatan saya ada sekitar 160 lebih pedagang yang tergabung dalam Perhimpunan pedagang pasar Sidomulyo, dan semuanya sudah dapat Kios/Los.” Ujar M. Nurdin, Kamis siang (16/6/16).

Sebagai ketua perhimpunan pedagang Sidomulyo, Nurdin memegang data para pedagang yang ada dalam asuhannya, yang menurutnya semua sudah mendapat kios/los. Nurdin mengaku tidak tahu pedagang darimana yang dibela oleh Sariyanti tersebut.

“Pedagang rumah/bedang ada sekitar 38, Pedagang arah Candipuro, 37 , yang diterminal 38, tukang buah, gorengan dan bakso ada 22, yang punya kios/toko 47, dan yang belum tercatat kemudian melapor ke saya ada 15 sampai 20 pedagang.” Ungkap Nurdin.

Nurdin juga membeberkan jumlah los dan kios usai dibangun, yakni 260 Los dan 114 Kios dan menurutnya semua Los dan Kios sudah terisi penuh. Nurdin juga menyinggung soal pedagang yang mendapat lebih dari satu Los/Kios.

“Kalau soal pedagang yang dapat dua, asal usulnya, karena kios lama ukurannya 3 x 8 meter, setelah dibangun, ukuran kios hanya 3 x 2,5 meter, ukuran berbeda inilah yang menyebabkan pedagang lama meminta kios lebih dari satu.” katanya.

Sebelumnya Sariyanti melaporkan kasus pembangun pasar Sidomulyo ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta. Pelaporan ini menurutnya merupakan buntut kisruh pembagian Kios dan Los di pasar Sidomulyo.

“Saya ke KPK berangkat pada tanggal 7 juni, saya bawa semua dokumen terkait dengan pembangunan pasar dan dokumen yang lainya. Bangunan pasar kalau dilihat dana yang di gunakan sangat besar mencapai 10 milyar rupiah namun dengan dana segitu besar saya lihat tidak sesuai dengan keadaan fisiknya yang sudah jadi saat ini. Saya menilai proyek pembangunan pasarnya terkesan asal asalan.” Ujarnya.

Ia juga mengaku sedang memperjuangkan 68 pedagang pasar Sidomulyo yang hingga saat ini belum mendapat kios atau los di pasar yang dibangun tahun 2015 dan selesai beberapa bulan yang lalu ini. Sari mengungkapkan jika kehadirannya ditengah para pedagang untuk membela hak para pedagang yang saat ini terabaikan. (aka-ade/str)

Comments

comments

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top
Shares