Catatan Aka

Catatan Aka: Hipni – Sutono, Tony – Sutono atau Sutono – Aribun

Ilustrasi: net/ist

Catatan Aka

Judul: Hipni – Sutono, Tony – Sutono atau Sutono – Aribun

Oleh: KHAIRULLAH AKA

Jika Nanang Ermanto – Pandu Kesuma Dewangsa melaju sampai ke KPU, kemudian menerima nomor urut sebagai peserta Pilkada Lampung Selatan 2020, itu hal biasa dan tidak banyak membuat orang terkejut.

Yang luar biasa adalah ketika Nanang Ermanto batal menjadi Calon Bupati karena ditetapkan tersangka oleh KPK terkait pengembangan kasus fee proyek infrastruktur 2018 yang telah menjebloskan Zainudin Hasan, Agus BN dan Anjar Asmara ke penjara.

Apa yang akan dilakukan oleh PDI Perjuangan jika Nanang dijadikan tersangka? Tentu menurut Saya, partai banteng moncong putih ini akan mencari gantinya.

Siapa yang paling mungkin menggantikan posisi Nanang? Bisa Hendry Rosyadi, Sutono, Hery Putra, atau kader Import seperti Lesty Putri Utami (Putri Mukhlis Basri).

Dari nama-nama yang Saya sebut, yang paling mungkin adalah Sutono. Kenapa bukan Hendry, Hery atau Lesty? Pertanyaan akan kita bahas ditulisan berikutnya.

Yang jelas, Sutono dulu mantan Sekdakab Lamsel, mempunyai pendukung akar rumput yang kuat terutama para petani dan dekat dengan pemangku kebijakan ditubuh PDIP.

Apakah itu saja alasannya? Secara sederhana, alasannya itu Saja. Timbul pertanyaan, jika Sutono jadi pengganti Nanang, apakah Pandu masih tetap mendampingi?

Jawabannya ada 2, Jika PDIP menunjuk Sutono sebagai calon bupati, maka wakilnya bukan Pandu, karena mereka diterjemahkan sama-sama dari wilayah barat.

Selain itu, diabaikannya Pandu, karena Ia tidak berasal dari Partai yang memiliki kursi di DPRD Lamsel.

Kemungkinan tersebesar, Sutono akan menggandeng wakil lain dari wilayah timur yang lebih banyak meraup suara pemilih.

Ada beberapa nama yang mungkin digandeng Sutono, tapi menurut Saya, pilihan paling masuk akal adalah, Aribun. Pengusaha asal Palas ini cukup tenar (berdasarkan survey Itera Independent Survey, Ia persis dibawah Nanang).

Ia juga ketua Perindo Lamsel yang memiliki 1 kursi keterwakilan di DPRD Lamsel. Jika dikawinkan, PDIP dan Perindo saja, genaplah 10 kursi dan perahu bisa berlayar di lautan Pilkada.

Nah, itu kalau PDIP mengusung calon bupati sendiri, tapi andai PDIP hanya mengusung calon wakil bupati, akan dikawinkan dengan siapa Sutono?

Jawaban, bisa dengan calon bupati yang diusung PAN, atau calon bupati yang diusung Golkar.

Artinya, bisa saja Sutono jadi wakilnya Hipni atau jadi wakilnya Tony Eka Candra. Terus, jika analisa ini benar, akan kemana Melin istrinya Eki Setyanto dan bagaiman nasib Antoni Imam (PKS).

Soal itu, bisa dibahas nanti, mereka bisa ditempat didalam lingkaran dengan menjadi Jenderal Tim Sukses, atau keluar mencari tempat berlabuh baru, jika masih masih ada waktu.

Apapun masih bisa terjadi, baik yang kita sukai atau yang kita benci. Sebagian mungkin tak ingin Nanang – Pandu dipisahkan.

Sebagaian yang lain mungkin ingin kejutan yang mengubah peta politik di Lamsel, sesuatu hal yang baru, fresh, artinya, ‘tidak itu-itu saja’.

Sejauh ini Tony Eka Candra dan Antoni Imam diusung dua Parpol yakni Golkar dan PKS dengan jumlah 14 kursi DPRD.

Pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati, Hipni dan Melin diusung oleh PAN dan Gerindra dengan jumlah 14 Kursi DPRD.

Kemudian Nanang – Pandu diusung PDIP, Nasdem dan Hanura dengan jumlah 13 Kursi DPRD.

Sisa 3 Parpol lagi yang belum jelas akan kemana dan mendukung siapa, yakni Demokrat 5 Kursi, PKB 4 Kursi dan Perindo 1 Kursi DPRD Lamsel. Tabik… (khairullah aka)

Berita Popular

To Top
error: Content is protected !!