Catatan Aka

Catatan Aka: Jika Karma Itu Nyata

Ilustrasi: net/ist

Catatan Aka

Judul: Jika Karma itu Nyata

Oleh: KHAIRULLAH AKA

Jika Nanang Ermanto tidak ditetapkan sebagai Tersangka oleh KPK sebelum Pilkada, maka ada yang meradang tapi ada juga yang gembira.

Yang meradang tentu para lawan politik Nanang, dan yang dibuat senang pasti calon wakilnya, Pandu Kesuma Dewangsa.

Nanang menurut survey terkini (Itera Independent Survey) masih jadi pemuncak, dan andai Ia terus melaju, akan jadi momok bagi Tony Eka Candra – Antoni Imam dan Hipni – Melin.

Karena jika Nanang – Pandu bertarung di Pilkada 9 Desember 2020, kemungkinan Incumbent menang lebih besar dibanding kandidat lain.

Teorinya, apabila ingin menjadi pemenang dalam sebuah kompetisi, maka pesaing harus sesedikit mungkin. Dengan teori itu, maka jika hanya ada 2 kandidat, yang menang tentu TEC – Antoni atau Hipni – Melin.

Tapi jika Nanang – Pandu ikut bertarung di Pilkada, peruntungan kedua kandidat diatas bisa turun drastis. Kedua pasangan ini hanya akan memberi tepuk tangan untuk pemenang.

Mereka juga akan mengeluarkan energi dan uang lebih besar agar bisa mengalahkan petahana. Belum lagi kepusingan-kepusingan dalam mengatur strategi meredam kader akar rumput partai banteng moncong putih.

Jika Nanang tidak ikut bertanding, mungkin TEC – Antoni dan Hipni – Melin cukup mengeluarkan 35 Miliar rupiah untuk menang, tapi sebaliknya, jika Nanang – Pandu hadir, dua kali lipat modal bakal mereka rogoh.

Jika mau jujur, berapa sih yang akan memilih TEC – Antoni dengan perkawinan Golkar – PKS atau persandingan antara warga Bandar Lampung dan Sidomulyo (Lamsel) ini?

Dan berapa suara yang bakal diraih Hipni, seorang warga Palas Lamsel, kader Golkar yang direkom bukan oleh partainya, tetapi oleh PAN dan Gerindra?

Kemudian berapa pula suara yang bakal disumbang warga Natar dan sekitanya untuk mendukung seorang istri mantan wakil bupati, Eki Setyanto, Melin yang didapuk sebagai pendamping Hipni?

Dibanding, suara yang bakal diraup oleh Nanang – Pandu yang diusung partai pemenang Pemilu, Pileg dan Pilkada di Lamsel berturut-turut. Belum lagi ditambah suara Nasdem dan Hanura.

Kalau mau jujur, dan mau membuka hasil survey lembaga kredibel terkini, misal Rakata Institute, Nanang sangat mungkin masih diatas angin. Ia masih lebih tenar dan lebih mungkin dipilih dibanding kandidat lain.

Atas dasar itu, tentu yang paling diinginkan lawan politik, sekali lagi, yang paling diinginkan adalah, tidak adanya Nanang dalam pertarungan Pilkada 2020 ini.

Cuma saat ini menurut Saya, satu hal yang cukup menggangu konsentrasi Nanang, yakni aroma kasus fee proyek Lamsel 2018 yang kini kembali dikembangkan penyidikannya oleh KPK.

Kita tau, status Nanang terakhirnya di KPK masih sebagai Saksi. Tapi mungkin saja, status tersebut berubah atau dengan kata lain, ditingkatkan sebelum Pilkada 2020 digelar. Dan itu menjadi keinginan dan doa-doa yang terselip sengaja atau tak sengaja dari lawan politik Nanang.

Kedua, Siapa yang gembira kita Nanang tak ikut tersandung kasus pendahulunya, tentu saja, calon wakilnya, yakni Pandu Kesuma Dewangsa.

Mengapa gembira, yang pertama, Pandu mendapat pasangan seorang calon bupati petahana, dilahirkan dari partai besar yang memiliki pendukung fanatik di akar rumput dan memiliki peluang menang paling besar.

Atas dasar itu, Pandu bisa saja dengan senang hati membantu Nanang, baik moril dan materil dalam jumlah besar agar menang di Pilkada dan menjadi Bupati dan Wakil Bupati Lamsel periode berikutnya.

Tentu jika menang, Nanang dan Pandu akan memadu kasih, seiring sejalan, mesra sampai akhir, itu harapan dan doa kita. Tentu kita tidak ingin yang terjadi sebaliknya.

Karena lumrah jika masih pacaran begitu mesra saat bulan madu begitu romantis, namun setelahnya gontok-gontokan, ‘bagi kicut’ atau pisah ranjang.

Dan yang paling menyakitkan dan semoga ini tidak menjadi niat terselebung dari sang Wakil. Apa itu, tak lain adalah harapan agar Nanang berhenti ditengah jalan.

Ada beberapa kemungkinan, Bupati Lamsel yang saat menjabat, berhenti. Pertama jika Ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi.

Kedua meninggal dunia, ketiga berhalangan tetap, misalnya sakit, atau keempat mengundurkan diri karena suatu hal.

Andai itu terjadi, maka Pandu naik menjadi Bupati. Siapa yang tidak gembira? Memanen durian runtuh. Dari wakil bupati menjadi bupati? Sama halnya, dulu Nanang wakilnya Zainudin Hasan.

Namun karena Zainudin Hasan saat itu tersandung kasus fee proyek dan divonis 12 tahun penjara, Nanang pun jadi Plt. Bupati dan kemudian menjadi Bupati menggantikan adik kandung Ketum PAN, Zulkifli Hasan itu.

Dan Nanang pun mulus menggantikan Zainudin selama 2,5 tahun, mulai saat Ia jadi Plt. Bupati awal Agustus 2018 dan berakhir nanti 16 Februari 2021.

Lagi, jika prediksi Saya benar, maka kata-kata, ‘Karma itu Nyata’ benar adanya. Semoga itu tidak terjadi. Allah yang maha tahu…Tabik. (khairullah aka)

Berita Popular

To Top
error: Content is protected !!