Catatan Aka

Catatan Aka: Obrolan Gemrong dan Serom

Catatan Aka.
Pertama.

Judul: Rendahnya Serapan Anggaran.

Kabupaten Sasi provinsi Berantah lagi gonjang ganjing soal rendahnya serapan anggaran.

Di warung, kantin, gardu, obrolannya tak jauh dari itu. “Lah piye kok duit yang udah disiapin ngebangun kabupaten ini kok gak dipake, malah dibalikin lagi ke kas negara,” ujar Gemrong di warung mbah Slamet.

“Mungkin duitnya sengaja dibalikin, cari aman,” timpal Serom, pria krempeng berusia 40 tahun itu sambil nguyah pisang goreng panas di balai bambung yang ada di samping kanan warung tersebut.

“Lah piye, kok sengaja dibalikin, maksudnya gimana Rom? Cari aman gimana? Aku ra mudeng,” tanya Gemrong, pria paruh baya bertubuh tambun pemilik kedai kopi terkenal di kabupaten Sasi.

“Ya cari amanlah, sampean ingat gak kasusne bupati Sasi, Pak Zazim yang ditangkap KPK karena urusan proyek, inget gak sampean?” Tanya Serom dengan wajah serius.

“Konon katanya kasus Pak Bupati itu soal setoran proyek dari rekanan. Jadi biar perusahaannya menang tender, harus setor duluan 20 persen lebih, kalau ndak ya ndak dapat proyek,” kata Serom.

Gemrong pun penasaran. “Trus opo kaitannya dengan sekarang loh Rom, kan peristiwanya udah lebih dari setahun yang lalu, dan mereka udah dijeblosin ke penjara,”

“Gini loh Rong, dari obrolan salah seorang pejabat dinas, dia bilang kalau sekarang ini proyek yang ditender gak ada pemenangnya, banyak yang gugur karena gak memenuhi kualifikasi, otomatis proyek gak bisa dikerjain, jadi duitnya dibalikin lagi,”

“Loh, kan bisa ditender ulang Rom, masa iyo segitu banyak perusahaan di kabupaten Sasi ini gak ada yang bagus dan memenuhi standar,”

“Rong, tender itu udah dilelang ulang, tapi tetap saja gak dapat pemenangnya, sampe waktu masa tendernya habis,”

“Lah, dulu-dulu itu kok kayaknya mudah banget dapat pemenang lelang, kok sekarang kayaknya susah?” tanya Gemrong yang duduk di pojok kiri balai bambu disebelah kiri si Serom.

“Katanya, yang aku denger dari mas-mas yang di dinas itu, dulu kecenderungannya kearang kongkalikong, setor menyetor ke pucuk, agar bisa menang, sampean liatkan akibatnya,” jawab Serom dengan mimik serius.

“Kalau sekarang, katanya semua urusan lelang udah diserahin ke ULP, satu pintu, profesional, gak ada setor-setor, gak ada kongkalikong, semua perusahaan yang mengajukan penawaran atas sebuah lelang proyek, benar-benar diteliti segala persyaratannya, kalau gak terpenuhi langsung lewat, katanya, tapi hanya Tuhan yang tahu,” lanjut pria yang bekerja dipercetakan dan sablon itu.

“Ow gtu ya Rom, kok kayaknya kamu paham bener sih Rom, apa kamu pernah ikut lelang trus gak menang?” tanya Gemrong sambil terkekeh.

“Ya gak lah, aku dapat semua info itu karena gaul Rong, bergaul, ketemu orang ngobrol, ketemu orang lagi, nanya, dan gak sengaja aku dengar di masjid, obrolan pejabat-pejabat di masjid Rong,” timpal Serom lagi.

“Oh ngono toh Rom, yo wis lah semoga kabupaten kita ini lebih maju lagi… Eh.. tapi bentar, bentar, kalau menurut kamu, ada gak sih jalan keluar biar penguasaha lokal terutama bisa ikut proyek atau menang tender dengan cara profesional tanpa setor sana setor sini?” tanya Gemrong sambil mendekat ke Serom.

“Ya pasti adalah, lawong orang Pemda itukan pinter-pinter, pejabat itu juga kan pinter-pinter, tapi kadang karena keadaan mereka jadi bodo,” jawab Serom sambil tertawa.

“Apa jalan keluarnya?” desak Gemrong. “Ya tinggal kumpulin aja semua pengusaha di kabupaten Sasi ini, trus kasih arahan dan pelatihan terkait bagaimana menjadi perusahaan berkualitas yang nantinya bisa menang tender tanpa melalui jalan curang,”

“Pelatihan bisa setahun 2 kali atau setahun 3 kali kemudian yang gak kalah pentingnya, komitmen pimpinan tertinggi kabupaten dan juga birokrat untuk gak tergiur uang panas dari para pengusaha, gitu loh Rong, ngerti gak sampean, Rong, ngerti gak sampean” imbuh Serom.

Serom yang saat bicara menghadap utara akhirnya menoleh ke arah Gemrong. Bukannya mendapat acungan jempol atas pendapat briliannya, Ia malah mendapat bau napas tak sedap dari Gemrong yang tertidur saat Ia berkoar.

“Halah, malah ngorok, orang udah berbusa-busa menjawab dia malah tidur. Yo wislah aku balik dulu ya pak Slamet.”

Sama seperti Gemrong, yang tak menjawab pertanyaannya, rupanya mbah Slamet juga ketiduran, maklum karena termakan usai yang sudah menginjak usai 70, Ia jadi cepat tertidur.

“Sami mawon, mbah, mbah jaga warung kok malah tidur, hadeh.” Tukasnya sambil beranjak dari warung yang tak jauh dari lapangan Pemkab Sasi itu. (khairullah aka)

Comments

comments

Advertisements

Berita Popular

To Top
Shares