Hukum

Jadi Saksi, Sekdakab Lamsel akui Terima 50 Juta dari Syahroni

Persidangan lanjutan dengan terdakwa Bupati nonaktif Lampung Selatan Zainudin Hasan di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang, Senin, 7 Januari 2019. - Tribun Lampung/Hanif Mustafa

BANDAR LAMPUNG – Sekretaris Kabupaten Lampung Selatan Fredy SM sempat gelagapan saat dicecar pertanyaan oleh hakim anggota Baharudin Naim.

Fredy memberikan kesaksian dalam persidangan lanjutan dengan terdakwa Bupati nonaktif Lampung Selatan Zainudin Hasan di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang, Senin, 7 Januari 2019.

“Pernah nerima uang dari Syahroni?” tanya Baharudin.

“Pernah, 2017. Uangnya sebesar Rp 50 juta,” jawab Fredy.

Advertisements

Baharudin pun menanyakan uang tersebut sumbernya dari mana.

“Tidak tahu,” jawab Fredy pelan.

“Tapi tahu jabatan Syahroni apa?” tanya Baharudin lagi.

“Tahu. Kepala seksi,” sebut Fredy.

Baharudin pun terus mengejar.

“Anda tidak tahu dari mana uangnya?” tanya ulang Baharudin.

“Tidak,” ujar Fredy.

“Jadi main terima saja, ya?” tanya Baharudin.

“Iya,” jawab Fredy.

“Dan Anda tidak melapor?” tanya Baharudin.

“Tidak,” jawab Fredy.

“Bupati yang menjabat saat itu siapa?” ucap Baharudin.

” Zainudin Hasan,” kata Fredy.

“Jadi untuk apa uangnya? Untuk bayar utang atau apa?” tanya Baharudin.

Fredy sempat gelagapan saat menjawab pertanyaan ini.

“Ya itu,” jawab Fredy sedikit kebingungan.

Dibahas di Rumah Kontrakan

Pembahasan lelang proyek di Dinas PUPR Lampung Selatan ternyata tidak dilakukan di kantor.

Semua proses yang berkaitan dengan lelang proyek dikerjakan di sebuah rumah kontrakan.

Hal ini diungkapkan Muhammad Saefudin, PNS Dinas PUPR Lampung Selatan, dalam persidangan lanjutan dengan terdakwa Bupati nonaktif Lampung Selatan Zainudin Hasan di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang, Senin, 7 Januari 2019.

“Mengontrak sebuah rumah untuk mengerjakan kegiatan. Saya yang bayar kontrakan. (Uangnya) Dari Pak Syahroni,” ungkap Saefudin saat dicecar pertanyaan oleh hakim ketua Mien Trisnawaty.

Saefudin mengaku hanya bertugas menelepon peserta lelang dan memasukkan data ke Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

“Selain itu, Pak Adi juga meng-input atau meng-upload. Sedang Pak Gunawan dan Ketut yang membuat penawaran,” jelas dia lagi.

Saefudin mengaku bisa menelepon peserta lelang yang sudah dipersiapkan lantaran mendapat nomor dari Syahroni.

“Saya menghadap langsung ke Syahroni, dan mendapat nomor telepon dalam bentuk tulisan tangan,” katanya.

Saefudin pun mengaku tidak mengetahui siapa saja nomor yang akan dihubunginya.

“Hanya nama pekerjaan dan nomor telepon. Banyak (nomornya), kemudian saya hubungi satu per satu,” paparnya.

Mien pun menyela. “Ini (nomor) telepon punya pemilik perusahaan atau staf?” tanya Mien.

“Rata-rata hanya anak buah, pengurusnya. Saya hubungi (untuk) minta data-data perusahaan. Rata-rata mereka sudah paham. Saya minta hard copy perusahaan,” tandasnya.

Hal sama dikatakan Rahmi Febria, PNS Dinas PUPR Lampung Selatan.

Dia mengakui adanya rumah kontrakan yang digunakan untuk mengerjakan lelang abal-abal tersebut.

“Masuk di bagian umum. Saya baru awal tahun 2018 mulai membantu dalam bidang operasional. Ya menyiapkan meja-meja (untuk rumah kontrakan),” bebernya.

Mien pun bertanya, apakah ada penghuni dalam rumah kontrakan tersebut?

“Kalau ada pekerjaan, baru kumpul. Kalau gak ada (pekerjaan), gak kumpul,” jawabnya dengan suara lirih.

Rahmi mengatakan, dirinya jarang datang ke rumah kontrakan itu.

Kecuali jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

“Kadang saya yang belikan makan. (Upload) Tidak, Yang Mulia,” tutupnya.

Muhammad Almi, PNS Dinas PUPR Lamsel yang bertugas sebagai PPTK bidang pengairan, mengaku tidak mengetahui penentuan awal pemenang lelang.

“Tidak tahu. Kalau sudah menang, baru bekerja. Tugas PPTK melaksanakan pemantauan pekerjaan di lapangan,” kata Almi.

Selain tiga orang yang menjadi saksi tersebut, turut hadir memberikan kesaksian yakni Sekkab Lampung Selatan Fredy SM serta dua PNS Dinas PUPR Lampung Selatan, yakni Adi Supriyadi dan Gunawan.

(sumber: tribunlampung.co.id)

Comments

comments

Advertisements

Berita Popular

| LAPORAN PENERIMAAN BANTUAN TUNAI BENCANA TSUNAMI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN PERTANGGAL 28 JANUARI 2019 - PENERIMAAN di Rekening Bank BRI (0503-01-001105-30-6) Saldo: Rp. 252.006.172,00 | Rekening Bank Mandiri (114-00-2200800-0) Saldo: Rp. 1.818.684.641,00 |
To Top
Shares