Opini

Nanang oh Nanang…

OPINI
Oleh: KHAIRULLAH AKA
Pemimpin Redaksi Lnews.co

Judul: Nanang oh Nanang

PDIP punya tradisi merilis rekomendasi calon kepala daerah diakhir-akhir masa pendaftaran di KPUD.

Itu membuat para bakal calon bupati Lampung Selatan yang mendaftar di partai banteng moncong putih tersebut galau. Bagaimana tidak, sudah menunggu lama, ternyata rekom jatuh ke orang lain.

Hampir semua bakal calon bupati maupun wakil bupati Lampung Selatan mendaftar di PDIP. Dari internal partai, Nanang Ermanto, Hendry Rosyadi dan Sutono. Dari luar partai lebih banyak lagi, ada Hipni, Antoni Imam, Tony Eka Chandra, Heri Putra, Fahrorrozi dan Amin Syarifudin.

Kenapa PDIP masih begitu mempesona para politisi, ya karena dalam Pemilu 2019 ini, PDIP meraih suara partai terbanyak dan mendapat 9 Kursi dewan. Tinggal tambah 1 kursi koalisi, PDIP bisa melenggang tarung di Pilkada 2020.

Dari kacamata awam, tentu PDIP bakal merekom kader partainya. Pertanyaannya, akan jatuh ke siapa rekom tersebut, apakah ke Nanang, Hendry atau Sutono.

Menurut saya kemungkinannya masih fifty-fifty. Bisa saja Nanang, bisa Hendry atau Sutono. Tapi jika melihat posisi saat ini, kemungkian rekom itu akan jatuh ke Nanang.

Mengapa? Karena saat ini Nanang incumbent kemudian punya kendali di birokarasi dan segala perangkat dan posisinya saat ini bisa dengan mudah Ia gunakan untuk mempromosikan diri, menambah popularitas dan elektabilitasnya. Terlepas itu disengaja atau pun tidak disengaja.

Tapi, lagi-lagi jika itu pun dilakukan, apakah Ia bisa menang? Atau justru posisinya sebagai Plt. Bupati memperburuk keadaan, karena kita tahu bahwa Incumbent sangat rentan diserang, dikuliti dan dibully oleh lawan politiknya, kenapa? Tentu yang paling mungkin karena keterkaitan dengan kepemimpinan dan pengelolaan anggaran daerah.

Yang jelas, selain itu juga, dari berbagai survey beredar, bahwa 60 persen incumbent kalah dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia. Artinya apa, Nanang sangat mungkin kalah, tapi kemungkinan menang juga masih ada.

Survey Rakata yang dirilis sekitar bulan Agustus 2019 lalu mencatat, Nanang mengungguli bakal calon lain. Tapi apakah itu akan tetap bertahan hingga hari pencoblosan nanti (akhir September 2020). Bisa iya bisa tidak, tergantung apa yang sudah maupun akan dilakukan Nanang.

Pertanyaannya, apakah Ia punya tim yang solid untuk mengkondisi angka-angka survey itu tetap diatas, atau mengkondisikan tim akar rumput, kemudian media dan elite politik?

Jika dilihat kasat mata, kemudian melirik rekam jejaknya, saya tidak yakin Nanang punya koneksi mumpuni sampai ke puncak elite politik ataupun membentuk tim pemenangan yang solid untuk menjaganya agar tetap melenggang.

Siapa dibelakang Nanang saat ini, siapa yang ada disekitarnya sekarang dan siapa yang mendukungnya ditingkat atas? dan apakah yang Ia miliki saat ini mampu membawanya ke kursi Bupati?

Soal itu saya tidak tahu, yang saya tahu, Nanang kini seperti berjalan tanpa arah. Jika Ia kapten, maka awak kapalnya bekerja tanpa perintah yang jelas.

Pertanyaan lain, yang menurut saya paling krusial, apakah Nanang punya uang? Apakah Ia punya ‘Amunisi’ yang cukup untuk membiayai kampanyenya? Atau kalau pun tidak, apakah Ia punya penyokong dana?.

Sekali lagi entahlah, yang jelas, mantan orang dekatnya dulu berkata, Nanang pasti menang, namun kini mereka berkata, Nanang akan Kalah.

Saya tidak tahu pasti, mengapa mereka berkata seperti itu, hanya mereka yang tahu pasti duduk permasalahannya.

Akan tetapi, menurut saya Nanang masih punya kesempatan Menang jika mulai detik ini Ia menata dirinya dan timnya agar tidak terlindas arus deras politik yang akan menerpa sebentar lagi. (khairullah aka)

Hoax atau Real Cek Disini

Berita Popular

To Top
error: Content is protected !!