Opini

OPINI: Menghitung Untung Ala TEC

OPINI

Judul: Menghitung Untung Ala TEC

Oleh: Syahidan MH
Mantan Anggota DPRD Lampumg Selatan.
Tinggal di Natar.

Menjelang pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati di KPU yang sudah semakin dekat, maka para bakal calon, selain sedang sibuk melobi partai, juga sedang sibuk mencari pendamping.

Meski saat ini belum resmi deklarasi, tapi para calon sepertinya sudah menemukan pasangan masing-masing yaitu, Nanang Ermanto dengan Pandu Kesemu Dewangsa (Nanang – Pandu), Toni Eka Candra dengan Antoni Imam (TEC – Antoni) dan Hipni – Melin.

Apakah pasangan itu sudah final, jawabannya ‘Masih Goyang’. Tulisan saya kali ini hanya akan mengupas perjalanan TEC saja dalam mencari pendamping, karena pada tulisan saya sebelumnya, saya sudah pernah mengupas tentang Nanang dan Hipni.

Kenapa pada bagian atas saya menulis Menghitung Untung Ala TEC? Karena saat ini sesungguhnya TEC memang sedang berhitung untung rugi. Tentu TEC ingin menghitung untung, bukan menghitung rugi.

Dalam hal apa TEC sedang menghitung untung? Jawabannya adalah dalam menentukan partai koalisi yang didalam koalisi itu ada pilihan sosok pendamping.

Meski saat ini TEC sepertinya sudah ‘Nyaman’ berdampingan dengan Antoni Imam, namun kabarnya Golkar masih Gamang untuk menjatuhkan dan mengawinkan pasangan TEC – Antoni.

Meski kabar burung yang saya dengar, sesungguhnya rekom dari PKS sudah ada dan hanya tinggal dibacakan saja, namun PKS Lampung Selatan, masih menunda hal tersebut, mungkin salah satu penyebabnya karena Partai Golkar belum mengeluarkan rekomendasi dan PKS tidak ingin kejadian di Kota Metro terulang kembali.

Lantas apa hubungannya dengan menghitung untung ala TEC ini? Sebagai kader yang loyal ke partai, TEC tidak bisa bekerja dengan ‘mau’ nya sendiri. Dia harus mengikuti panduan partainya yaitu Golkar, dalam menentukan arah koalisi.

Itulah yang membuat TEC hingga hari ini menurut Saya terus berhitung untung, bukan berhitung rugi.

Sama-sama kita ketahui duet Arinal – Nunik dengan tagline BERJAYA-nya juga akan mengalir ke kabupaten/kota dalam hal Pilkada, termasuk di Lamsel.

Nunik sebagai ketua DPW PKB Lampung, telah menitip orangnya di Lampung Selatan, yaitu Alif. Dan titipan itu diarahkan ke Golkar dengan tagline Berjaya.

PKB dengan Nunik-nya berusaha untuk menyandingkan TEC – Alif. Tentu Nunik sudah juga berhitung dan tentu Nunik juga sudah berbicara dengan bos Golkar Lampung yaitu Arinal Junaidi. Bisa saja, itulah yang kini sedang bergejolak dan juga sedang dihitung oleh partai Golkar dan TEC.

Melihat kedekatan hubungan, sebenarnya TEC sudah amat nyaman dengan Antoni. Bahkan keduanya sudah sering tampil bareng, kalau sudah nyaman kenapa blm declare? Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah PKB.

Karena itulah, kini TEC sedang gencar-gencarnya meyakinkan warga NU yang merupakan pemilik saham mayoritas di PKB.

TEC faham, jika NU bisa dirangkul, maka lancarlah proses perekrutan suara di kalangan PKB/NU. Makanya tidak heran, jika hari-hari terakhir ini, TEC mengadakan silaturahmi terbuka dengan seluruh petinggi NU Lampung Selatan dan para pengurus NU kecamatan se-Lampung Selatan.

TEC dalam pertemuan tersebut berusaha meyakinkan pengurus NU, bahwa dirinya adalah NU tulen, bahkan TEC mengatakan, sejak dirinya masih dalam kandungan, Ia sudah NU.

Kenapa TEC sampai berkata begitu di hadapan para pengurus NU? Karena sesungguhnya dia ingin menyakinkan warga NU, bahwa kini orang NU ada calon bupati.

Karena itu, sebaiknya calon wakilnya jangan lagi orang NU. Itulah pesan yang ingin disampaikan TEC kepada pengurus NU dan itu artinya TEC amat berkeinginan untuk tetap bersama Antoni dan sekaligus TEC ingin mengawinkan PKS-PKB (NU) dalam kontestasi Pilkada Lamsel.

TEC tahu persis, dalam kondisi PKS yang sudah bercerai dengan Gelora, tentu akan banyak mengurangi para pemilih PKS di akar rumput.

TEC faham betul, bahwa partai Gelora berisikan para loyalis PKS, yang kini beda faham dengan pimpinan PKS pada seluruh tingkatan, sehingga keberadaan partai Gelora di Lamsel, tidak bisa dianggap remeh dalam ajang Pilkada ini.

Karena itulah TEC akan sekuat tenaga untuk merangkul NU dan PKB masuk dalam gerbongnya. Namun merangkul PKB, mesti ada syarat, yaitu Alif harus jadi wakilnya.

Sebuah pilihan yang dilematis bagi seorang TEC. Kenapa dilematis, karena sama-sama kita ketahui, jika TEC tidak mengambil Alif sebagai wakil maka PKB bisa saja tidak mendukung TEC dan jika TEC mengambil Alif, tentu saja PKS yang akan pergi dari TEC. Pilihan yang teramat sulit.

Karena itulah TEC berusaha untuk meyakinkan NU, agar jika seandai TEC tanpa Alif, maka NU tetap berada dibarisan TEC dengan asumsi TEC adalah orang NU tulen yang sudah NU sebelum Ia lahir.

Apakah NU mau? Ini juga sebuah pilihan yang sulit, karena tentu NU akan berfikir seribu kali untuk menjadi pendukung TEC, bukan karena tidak suka dengan TEC nya, tapi lebih pada persoalan di TEC ada PKS nya.

Dan PKS nyata-nyata memasang Antoni Imam. Kenapa begitu? Ini persoalan hubungan emosional lembaga, dimana antara NU dan PKS sejak era reformasi bergulir, ada gesekan tajam dan beda pandangan dalam hal Ideologi, dan hingga hari ini gesekan itu masih terasa pedih dirasakan oleh seluruh warga NU, termasuk warga NU Lamsel.

Sehingga jika TEC tetap memaksakan keinginannya untuk bersama Antoni, maka TEC akan kehilangan tiga poin. Pertama, TEC telah kehilangan para loyalis PKS yaNg sudah di Gelora. Kedua, TEC akan kehilangan tambahan koalisi dari PKB, dan poin yang ketiga, TEC akan kehilangan dukungan dari warga NU.

Meskipun TEC sendiri telah mengatakan bahwa sejak dirinya dikandungan Ia telah NU, namun karena ada kader PKS di tubuh TEC, maka itu tidak cukup meyakinkan warga NU.

Sementara Jika ia memilih Alif sebagai wakilnya, TEC pun akan kehilangan poin. Pertama, tentu Ia akan kehilangan PKS dan poin kedua TEC akan kehilangan wibawa. Kenapa harus kehilangan wibawa? Jawabannya, krn TEC selama ini kemana2 sudah bersama Antoni.

Lantas pertanyaan terakhir Saya, apakah dengan mengambil Alif, maka TEC akan mendapat dukungan utuh dari NU dan warga NU? Jawabannya TIDAK. Kenapa? Ini juga kaitannya dengan persoalan wibawa.

Pilkada tahun 2015, PKB atau NU mengusung ketua PW NU Lampung, KH. Sholeh Bajuri dan Ahmad Zawawi sebagai Cabup Cawabup Lamsel, namun kedua calon NU tulen itu ditentang habis-habisan oleh keluarga Alif.

Kakak Alif, yang bernama Bahaudin atau Gus Baha, saat Pilkada 2015 terang-terangan menolak Sholeh Bajuri, kala itu Gus Baha sebagai salah seorang pengurus NU Lamsel yaitu wakil ketua PC NU bersama orang-orang tertentu di Kepengurusan NU Lamsel malah mendukung pasangan Rycko – Eki.

Imbasnya warga NU Lamsel saat itu terkotak-kotak. Kini sama-sama kita ketahui, Sholeh Bajuri selain masih sebagai wakil Rois Syuriah PW NU Lampung, juga adalah pemilik pondok pesantren di Palas yang masih banyak pengaruhnya di Lamsel.

Sedangkan Ahmad Zawawi kini adalah sekretaris DPC PKB Lampung Selatan. dengan kenyataan ini lagi-lagi TEC harus dihadapkan pada sebuah pilihan yang dilematis.

Bagaimana akhir dari episode Menghitung Untung Ala TEC ini? Kita tunggu saja dengan sabar saat TEC menentukan siapa wakilnya. Tapi ingat, jangan terlalu hanyut ketika membaca tulisan saya ini, apalagi sampai emosi, karena ini adalah cerita sejarah, yang namanya cerita, pasti ada yang tidak mengenakkan. (Syahidan MH)

Hoax atau Real Cek Disini

Berita Popular

To Top
error: Content is protected !!